BANGKALAN||TRANSISINEWS – Pelayanan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Blega, Kabupaten Bangkalan, Madura, menuai kritik tajam dari pihak keluarga pasien.
Hal ini menyusul insiden seorang pasien rawat inap yang diduga ditelantarkan tanpa infus selama kurang lebih sembilan jam.
Ahmad, salah satu anggota keluarga yang menjaga mertuanya, H. Halimah, di Ruang Asoka 10, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kelalaian pihak puskesmas.
Menurut penuturannya, selang infus mertuanya terlepas sejak pukul 02.00 dini hari, namun hingga menjelang siang tidak ada tindakan dari petugas medis.
”Saya khawatir dengan kondisi mertua saya. Dari jam dua dini hari sampai jam sepuluh pagi infus tidak terpasang. Padahal sudah berulang kali saya melapor ke perawat jaga, tapi tidak ada respon. Malah saya sempat hanya diberi plester dan diminta memasangnya sendiri,” ujar Ahmad saat ditemui di ruang perawatan, Rabu (18/02).
Kekecewaan serupa disampaikan oleh Suhaimi, anak kandung pasien. Ia menilai manajemen Puskesmas Blega perlu dievaluasi total oleh Pemerintah Kabupaten Bangkalan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Keluarga sangat menyayangkan lambatnya penanganan medis padahal status ibunya masih dalam masa perawatan intensif.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Puskesmas Blega, drg. Safitri, awalnya enggan memberikan penjelasan mendalam sebelum melakukan penelusuran internal.
Drg Safitri menyatakan perlu melakukan kroscek terlebih dahulu kepada petugas di ruang rawat inap untuk mengetahui kronologi sebenarnya.
”Saya harus kroscek dulu, saya tidak bisa memberikan jawaban tanpa tahu kejadian di lapangan seperti apa. Saya akan telepon bagian rawat inap untuk memastikan teknisnya,” ujar Safitri.
Setelah melakukan koordinasi, Penanggung Jawab Ruang Inap, Musyarrofah, membenarkan bahwa infus pasien di Ruang Asoka 10 memang terlepas sejak dini hari.
Namun, ia memberikan alasan bahwa pihaknya menunggu diagnosa dokter untuk memutuskan apakah infus perlu dipasang kembali atau pasien sudah diperbolehkan pulang.
”Kami sudah klarifikasi ke petugas jaga malam, memang infusnya lepas sendiri. Tadi pagi sudah dilaporkan. Jika kondisi pasien stabil, kami tunggu instruksi dokter, apakah masih perlu dirawat atau boleh pulang. Kalau masih dirawat, tentu dipasang kembali,” jelas Musyarrofah.
Meski demikian, terdapat ketidaksinkronan informasi mengenai waktu penanganan. Pihak puskesmas mengklaim penanganan dilakukan pada pukul 09.00 WIB, namun pihak keluarga dan bukti dokumentasi menunjukkan bahwa hingga pukul 10.08 WIB, pasien masih dalam kondisi tanpa infus.
Di akhir penjelasannya, drg. Safitri berkomitmen untuk menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi. Dan berjanji akan meningkatkan kualitas pelayanan dan terbuka terhadap setiap kritik maupun saran dari masyarakat demi perbaikan manajemen puskesmas di masa mendatang.(tss)













