“Ini sangat mengecewakan. Terkait makanan tersebut, mengingat kesehatan anak-anak. Seharusnya dengan MBG ini, murid lebih tertarik menyantapnya, tapi sebaliknya,” ungkapnya.
Ia juga menyayangkan keteledoran pihak penyedia SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang dinilai tidak menjamin standar keamanan dan kelayakan pangan untuk anak-anak sekolah.
“Dengan penuh harapan semoga adanya pengawasan ketat dari pihak terkait, Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali,” ujar wali murid kepada reporter transisinews.com.
Menurutnya selain menu yang basi, kadang dapat kiriman lauk pauk berupa tempe sampai gosong, dan suatu ketika pada jumat, (21/11/2025) dalam kotak makan hanya berisi: susu kecil, roti harga sekitar Rp. 1000, 3 biji kelengkeng, 6 biji kacang rebus, 3 diantara nya kosong.
“Itu benar-benar tidak sesuai dengan selera anak-anak kita. Mereka seharusnya bisa menikmati makanan yang lezat dan bergizi, tapi malah mendapatkan makanan yang tidak enak. Ini sangat disayangkan. Banyak anak yang akhirnya memilih membawa kotak makan mereka pulang, itu menunjukkan bahwa mereka tidak puas dengan makanan yang disediakan. Proyek MBG ini seharusnya menjadi contoh yang baik bagi anak-anak, tapi malah menjadi sebaliknya,” ucapnya dengan nada marah.
Kejadian ini menyoroti kembali kualitas pelaksanaan program MBG di daerah tersebut. Warga berharap agar pengawasan ketat dari pihak terkait untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.(tss)













