Ads
PemerintahanPolitik

Perbedaan Signifikan KUA-PPAS dengan R-APBD, Abdullah Umar: DPRD Akan Kaji Ulang Dokumen 

syailendraachmad51
×

Perbedaan Signifikan KUA-PPAS dengan R-APBD, Abdullah Umar: DPRD Akan Kaji Ulang Dokumen 

Sebarkan artikel ini
IMG 20251124 WA0118

BOJONEGORO||TRANSISINEWS-Dalam upaya menetapkan Raperda tentang APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) tahun 2026, DPRD Kabupaten Bojonegoro menggelar agenda Rapat Kerja Banggar (Badan Anggaran) bersama TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) guna membahas R-APBD (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) tahun 2026 yang sebelumnya sudah disepakati bersama saat rapat kerja KUA-PPAS (Kebijakan Umum Anggaran – Prioritas Plafon Anggaran Sementara).

Rapat kerja yang dilaksanakan diruang Banggar Gedung DPRD Bojonegoro ini dipimpin langsung oleh Ketua DPRD H. Abdullah Umar, dan anggota Banggar DPRD, Sekretaris Daerah Edi Susanto, dan seluruh Pimpinan OPD Kabupaten Bojonegoro. Senin (24/11/2025).

Adanya ketidaksamaan dokumen KUA-PPAS dengan R-APBD yang di ajukan oleh TAPD, menjadi pertanyaan besar bagi Anggota Badan Anggaran Kabupaten Bojonegoro.

Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, Abdullah Umar menyampaikan bahwa semuanya tentu telah mengetahui adanya dinamika pembahasan R-APBD tahun 2026.

“Namun secara informal kami mendapatkan informasi awal perubahan dokumen KUA-PPAS dengan R-APBD ini cukup mengagetkan.

Dan adanya perubahan yang cukup signifikan antara KUA-PPAS dengan R-APBD tahun 2026 ini, harus menjadikan evaluasi untuk kita bersama,” ungkapnya.

IMG 20251124 WA0122
Nampak suasana serius Tim Banggar dan TAPD, dalam membahas perubahan KUA-PPAS menjadi R-APBD yang baru.

Umar menyatakan bahwa proses perencanaan yang kita lakukan bersama-sama tentu harus dievaluasi kembali. Karena pada saat KUA-PPAS telah disepakati dan kontruksi APBD telah terbentuk walaupun sifatnya masih terpaut sementara, tentu ini sudah mempertimbangkan berbagai hal.

Ia menjelaskan perubahan signifikan dari KUA–PPAS yang masuk dalam belanja daerah tercatat sekitar 6,7 triliun, dan dalam R-APBD yang diajukan TAPD mengalami penurunan sekitar 5,8 triliun, sehingga selisih mencapai sekitar 900 miliar.

Penurunan target SILPA dari sekitar 2,7 triliun menjadi 1,8 triliun dan perubahan target penyerapan anggaran OPD, harus dipertanyakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *