Pada semester tujuh, ia sempat terancam putus sekolah karena kendala biaya. Kondisi tersebut memicunya untuk mulai rajin menulis di berbagai surat kabar demi membiayai pendidikannya secara mandiri.
”Mulai dari titik itu, saya mengabdikan diri untuk memuliakan ibu saya. Seluruh kesuksesan saya tak lepas dari doa beliau,” kenang Munir emosional.
Munir juga membagikan resep suksesnya kepada jurnalis muda, yakni menjaga ketekunan, integritas untuk selalu berbuat baik, serta kepatuhan terhadap kode etik profesi sebagai tameng keberhasilan.
Akademisi Universitas Airlangga, Suko Widodo, memberikan apresiasi sekaligus catatan kritis terkait minimnya minat mahasiswa saat ini untuk terjun ke dunia jurnalistik.
Ia meyakini buku ini dapat menjadi oase dan panduan bahwa menjadi wartawan yang kredibel harus dimulai dengan menata perilaku, rajin membaca, dan aktif berorganisasi.
Tokoh media, Himawan, menambahkan bahwa kedekatan Munir dengan sang ibu merupakan kunci spiritual menuju puncak keberhasilan.
Himawan berharap buku ini menjadi inspirasi bagi 25 ribu anggota PWI di seluruh Indonesia untuk tetap berpegang pada nilai-nilai luhur profesi.
Acara ditutup dengan prosesi simbolis penyerahan buku dari Akhmad Munir kepada Ketua PWI Malang Raya, Cahyono, sebagai representasi regenerasi kepemimpinan dan semangat jurnalistik yang berkelanjutan.(red)













