Mustakim juga menyinggung soal penanganan sampah yang meluber ke Bengawan Solo beberapa minggu lalu, yang mendapat atensi serius dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan melakukan sidak. Respons cepat DLH ini menjadi contoh bagi DPRD untuk lebih proaktif dalam menangani masalah lingkungan.
Lebih lanjut, Mustakim mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengonfirmasi langsung ke salah satu anggota DPRD Bojonegoro terkait hal ini. Namun, ia justru mendapat jawaban yang mengejutkan, bahwa harus ada permintaan tertulis dari masyarakat setempat dulu.
“Ini lucu, karena waktu di Sukowati DPRD bisa langsung turun tanpa syarat seperti itu. Padahal, pabrik tembakau di Sukowati menyerap 90 persen tenaga kerja dari warga desa setempat, sementara pabrik roti justru sebagian besar pekerjanya dari luar desa,” terang Mustakim.
Ia berharap DPRD Bojonegoro dapat bersikap lebih adil dan objektif dalam menyikapi keluhan masyarakat, tanpa membeda-bedakan.
“Jangan sampai ada kesan DPRD hanya bergerak kalau ada kepentingan tertentu. Ini menyangkut kepentingan rakyat dan lingkungan hidup kita bersama,” pungkasnya.(sy)













