BOJONEGORO||TRANSISINEWS-Ketika sebuah masjid terlebih masjid wisata berganti nama tanpa penjelasan yang terang, publik patut berhenti sejenak dan bertanya.
Bukan bertanya dengan emosi, tetapi dengan kewaspadaan.
Sebab dalam sejarah sosial umat, perubahan simbol jarang berdiri sendiri.
Ia selalu membawa arah, kepentingan, dan pesan yang ingin ditanamkan pelan-pelan.
Untuk jelasnya, mari dibedah secara sederhana dan jujur.
Samin adalah nama identitas kultural-historis yang merujuk pada komunitas, ajaran sosial, dan sejarah perlawanan tertentu.
Ia bukan istilah teologis dalam Islam, tidak memiliki rujukan sebagai nilai ibadah, dan tidak dikenal dalam nomenklatur masjid.
Sementara Baitul Muttaqin berarti rumah bagi orang-orang bertakwa sebuah konsep universal, tanpa embel-embel identitas, dan tidak boleh dimonopoli oleh siapa pun.
Ketika kedua kata ini digabung menjadi Samin Baitul Muttaqin, makna yang lahir menjadi rancu seolah-olah ketakwaan memiliki label kultural tertentu, atau rumah orang bertakwa itu dikaitkan dengan satu identitas sosial.
Ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam bahwa ketakwaan bersifat personal, tidak diwariskan, dan tidak disematkan pada nama kelompok.
Bandingkan dengan tradisi Islam di pusat peradaban.
Dunia mengenal Masjid al-Haram (kesucian), Masjid an-Nabawi (fungsi kenabian), Masjid al-Aqsha (letak geografis), Masjid al-Azhar (nilai pencerahan), dan Masjid Umayyah (penanda sejarah pemerintahan, bukan identitas sosial).
Tidak satu pun menempelkan identitas komunitas sebagai label ketakwaan.
Karena itu, penyematan kata Samin pada nama masjid public terlebih masjid wisata bukan sekadar soal pilihan istilah, melainkan persoalan ketepatan makna yang kurang sejalan dengan tradisi penamaan masjid dalam khazanah Islam.
Nama Masjid sebelum berganti tidak bermasalah, Jamaah rukun, Ibadah berjalan, Fungsi sosial hidup.
Maka pertanyaan yang harus dijawab secara jujur adalah: apa urgensinya?
Perubahan tanpa masalah bukanlah pembaruan.
Ia adalah pemaksaan simbol yang mengabaikan akal sehat jamaah.
Masjid wisata adalah wajah Islam di hadapan publik luas orang desa, kota, pendatang, bahkan mereka yang baru belajar mengenal Islam.













