Ia mengaku hampir kehilangan tempat berjualan karena banyaknya pedagang baru yang tiba-tiba memiliki lebih dari satu stand.
“Jangan sampai kejadian saya terulang di Pasar Kota. Apakah kami harus protes dulu baru didengar?” keluhnya.
Selain masalah stand, warga juga menyoroti lokasi relokasi sementara selama pembangunan berlangsung.
Utomo, warga lainnya, mengusulkan agar lokasi penampungan tidak jauh dari pasar asal untuk menjaga aksesibilitas pelanggan.
”Kalau bisa ditaruh di halaman Gedung Serbaguna agar tetap dekat dan tidak menyulitkan pedagang maupun pembeli,” usul Utomo.
Menanggapi rentetan aspirasi tersebut, Mustakim yang menjabat sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Bojonegoro berkomitmen untuk mengawal isu ini dalam rapat bersama Pemkab, khususnya dinas terkait.
”Ini adalah persoalan serius. Pembangunan pasar seharusnya bertujuan menyejahterakan, bukan malah merugikan pedagang lama dan warga sekitar. Kami akan pastikan aspirasi ini masuk dalam pembahasan prioritas dengan eksekutif,” ujar politisi PKB tersebut.(red/sy)













