“Saya dapat 12 zak pakan, dan sekarang masih ada 4 zak,” ungkapnya sembari mengumpulkan telur.
Hasil telur yang ia panen dijual pada toko kelontong kisaran harga Rp 24.500 hingga Rp26.000 per kilogram. Sebagai langkah keberlanjutan, setiap hari dirinya menyisihkan sebagian hasil dari telur yang dijual untuk kebutuhan pakan. Agar nantinya, ketika bantuan pakan habis, ia bisa mandiri membelinya.
“Ya sedikit banyak setiap hari pasti disisihkan, kedepan kan juga harus mandiri untuk membeli pakan sendiri, terlebih dua tahun lagi juga harus re-generasi ayamnya jika sudah tidak bertelur,” ujarnya.
Secara terpisah, Sekretaris Desa Piyak Saeful, menyampaikan kesuksesan ini tidak lepas dari peran Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, serta dukungan penuh dari Pemkab Bojonegoro. Sehingga Desa Piyak ini menjadi salah satu desa tercepat yang melakukan realisasi program GAYATRI dengan alokasi dana desa (ADD) Tahun 2025 yang menjadi salah satu program prioritas Pak Bupati Wahono.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, untuk penerima GAYATRI di Desa Piyak dengan anggaran dari ADD ini ada 5 KPM (keluarga penerima manfaat) yang sudah disalurkan pada Mei lalu, yang saat ini sudah 100 persen semua produktivitas telurnya. Puluhan calon penerima manfaat baru di Desa Piyak juga telah diverifikasi.
“Harapannya warga bisa memanfaatkan ini sebaik-baiknya sehingga bisa menjadi mata pencaharian tetap. Dan semoga warga bisa mengatur dari penjualan telur untuk keberlangsungan ternak kedepan,” pungkasnya.(Red)













