Program Gayatri ini didanai melalui alokasi anggaran pemerintah pusat dan terdapat mekanisme tertentu dalam penyaluran anggaran yang menyebabkan terjadinya penyesuaian dana transfer ke daerah.
“Meski pemerintah pusat menyampaikan tidak ada pemotongan, tetap terdapat penataan ulang yang membuat daerah harus lebih cermat dalam mengelola anggaran agar sasaran program tetap tepat dan efektif,” jelas Wabup Nurul Azizah.
Sementara itu, perwakilan Kepala Disnakan Bojonegoro, Fajar Dwi Nurrizki, S.STP., MM, menerangkan bahwa “Gerakan Peternak Ayam Petelur Mandiri” merupakan salah satu program prioritas Pemkab Bojonegoro untuk menekan angka kemiskinan.
“Ayam petelur dipilih karena mampu memberikan pemasukan harian bagi KPM, dengan tingkat produktivitas telur mencapai rata-rata 80 persen,” pungkasnya.
Fajar juga memaparkan bahwa setiap KPM akan menerima dua unit kandang ayam, pakan sebanyak delapan sak yang dikirim dalam dua tahap agar lebih mudah disimpan, serta 54 ekor ayam petelur usia 16 minggu yang telah lolos pemeriksaan kesehatan oleh dinas.
“Selain itu, obat-obatan juga disediakan untuk menjaga kesehatan ternak,” tungkasnya.
Program Gayatri pada tahun ini menyasar 5.000 KPM yang tersebar di 389 desa dan kelurahan di Kabupaten Bojonegoro.
“Kami berharap dalam bulan pertama, para penerima dapat mulai merasakan hasil produksi telur dan selanjutnya mampu mengembangkan usaha peternakan secara mandiri,” imbuhnya.
Dengan terselenggaranya bimtek ini, pemerintah berharap para KPM tidak hanya menerima bantuan fisik, tetapi juga memperoleh pemahaman yang komperhensif mengenai tata cara budidaya ayam petelur, mulai dari manajemen pakan, perawatan ternak, penanganan penyakit, hingga pengelolaan hasil panen.
Program ini diharapkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi keluarga penerima serta berkontribusi nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan di Bojonegoro.(red/hf)













