”Investasi besar pada alat kesehatan harus dibarengi dengan investasi pada sumber daya manusia. Kami mencatat adanya penambahan dokter sub-spesialis yang signifikan, namun pesan kami tetap satu: Hospitality. Seluruh tenaga medis dan non-medis harus melayani dengan hati dan meningkatkan responsivitas terhadap keluhan pasien,” tambahnya.
Selain aspek pelayanan langsung, Umar juga menyoroti transformasi digital yang tengah dijalankan pihak rumah sakit.
Ia meminta manajemen untuk terus mengevaluasi sistem pendaftaran online agar benar-benar memberikan kemudahan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang belum terbiasa dengan teknologi.
Ketua DPRD juga mengingatkan pentingnya pemeliharaan aset daerah agar masa pakai alat kesehatan yang telah dibeli dengan anggaran besar dapat bertahan lama dan terus memberikan manfaat.
Ia menyatakan bahwa DPRD Bojonegoro akan terus menjalankan fungsi pengawasan secara ketat agar seluruh program kesehatan terealisasi 100 persen.
”Masukan dari masyarakat dalam forum ini adalah vitamin bagi kami di DPRD untuk terus melakukan evaluasi. Kita semua ingin RSUD Sosodoro menjadi role model pelayanan publik di Jawa Timur yang unggul secara fasilitas dan luar biasa secara pelayanan,” pungkasnya.
Kegiatan FKP ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat antara masyarakat sebagai pengguna layanan dan RSUD sebagai penyedia, guna mewujudkan visi Bojonegoro yang lebih sehat dan sejahtera.(red)













