Kepala Desa Kedungsumber Kardi mengatakan, adanya Desa Antikorupsi ini atensi masyarakat luar biasa sebagai bentuk wujud dukungan partisipasi. Juga ada kearifan lokal yang ditonjolkan seperti Nyadranan. Dengan melibatkan masyarakat, proses kepemerintahan di desa bisa berjalan lancar.
“Untuk 2025 ini atensi kami di sumber daya manusia. Sehingga walau (desa) di tengah hutan, SDM mampu bersaing dan unggul. Mulai 2023, kami memberikan apresiasi pada siswa berprestasi melalui beasiswa mulai masuk SMP. Sebab, warga setempat dalam mendidik tidak hanya bergantung pada lembaga pendidikan tapi juga secara mandiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, saat ini ada kurang lebih 50 sarjana dengan 3 mahasiswanya proses doktor. Mayoritas berasal dari keluarga buruh tani.
Sementara itu, Sigit Gunawan dari Inspektorat Kabupaten Bojonegoro menambahkan, beberapa indikator yang dilihat untuk mengajukan Desa Antikorupsi ialah kerapian dan kelengkapan dokumen, desa yang memiliki inovasi dan memiliki kearifan lokal.
Ada total lima komponen yang perlu dipenuhi. Di antaranya penguatan tata laksana, penguatan pengawasan, penguatan kualitas pelayanan publik, penguatan partisipasi masyarakat, dan kearifan lokal.













