Ads
RagamRegional

Ngangsu Kawruh Samin: Ruang Kolaborasi Lintas Generasi Merawat Warisan Luhur di Era Modern

syailendraachmad51
×

Ngangsu Kawruh Samin: Ruang Kolaborasi Lintas Generasi Merawat Warisan Luhur di Era Modern

Sebarkan artikel ini
IMG 20260621 WA0030

​“InsyaAllah akan ada tim penilai dari Jerman dan China yang berkunjung untuk melihat budaya Samin. Mudah-mudahan ini dapat mengangkat citra baik Bojonegoro sekaligus memperkenalkan budaya Samin kepada masyarakat dunia,” katanya.

​Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa budaya Samin telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2019.

Pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali mengusulkan tradisi Gumbregan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional.

​“Ini adalah bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus upaya menjaga identitas budaya dan kearifan lokal yang menjadi kekuatan masyarakat Bojonegoro,” tambahnya.

​Sementara itu, Bambang Sutrisno, generasi kelima Samin Surosentiko, menjelaskan bahwa esensi ajaran Samin tidak pernah berubah meskipun zaman terus berkembang.

Perubahan yang terjadi lebih banyak terlihat pada aspek fisik dan infrastruktur kehidupan masyarakat.

​Ia mencontohkan perkembangan Dusun Jepang yang kini telah memiliki jalan beton dan jalan paving, berbeda dengan kondisi masa lalu yang masih sederhana.

Namun demikian, perubahan tersebut tidak menggeser nilai-nilai utama yang diajarkan oleh leluhur Sedulur Sikep.

​Bambang juga mengisahkan pesan Samin Surosentiko bahwa kemerdekaan sejati akan terwujud ketika pemimpin dan rakyat hidup sesuai dengan aturan dan menjalankan tanggung jawabnya masing-masing.

Ajaran Samin, katanya, mengajarkan pentingnya bekerja keras, menanam kebaikan, serta menghormati hak milik orang lain.

​“Ajaran Samin mengajarkan agar tidak melakukan perbuatan buruk. Dulu, perlawanan terhadap penjajahan dilakukan tanpa kekerasan, melalui sikap hidup dan perilaku yang teguh memegang prinsip,” jelasnya.

​Dari semangat perjuangan tanpa kekerasan itulah lahir sebutan Sedulur Sikep, yang mencerminkan masyarakat yang menjunjung persaudaraan, tidak membeda-bedakan sesama, serta mempertahankan nilai-nilai kebenaran dengan cara damai.

​Melalui Ngangsu Kawruh Samin dalam peringatan satu dekade Samin Festival, sejarah perjuangan, nilai-nilai luhur, dan kekayaan budaya Sedulur Sikep kembali diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian penting dari identitas Bojonegoro.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *