BOJONEGORO||TRANSISINEWS – Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Bojonegoro (Unigoro) mengambil langkah visioner dengan membedah masa depan ekonomi daerah pasca-migas.
Bekerja sama dengan Indonesia Creative Cities Network (ICCN), mereka menggelar forum sharing knowledge bertajuk masa depan ekosistem kreatif di Hall Suyitno, Kamis (19/6/2026).
Forum strategis ini mempertemukan para pakar, pelaku, dan penggerak ekonomi kreatif (ekraf) lintas sektor nasional untuk menularkan peta jalan (roadmap) dalam membangun ekosistem kreatif yang mandiri dan berkelanjutan di daerah.
Ketua Harian ICCN, Vicky Arief H., menegaskan sudah saatnya Kabupaten Bojonegoro melakukan diversifikasi ekonomi secara radikal.
Pertumbuhan ekonomi daerah tidak boleh selamanya ditopang oleh sektor Sumber Daya Alam (SDA)—terutama industri minyak dan gas bumi (migas)—yang lambat laun pasti akan habis dieksploitasi.
”Beberapa daerah di Indonesia terbukti sudah sukses bertransformasi dari ekonomi berbasis komoditas mentah atau SDA menjadi ekonomi berbasis kreativitas, akar budaya, dan inovasi. Bojonegoro punya modal kuat untuk itu jika mau berfokus pada eksplorasi ide. Manfaatkan kekayaan budaya, kreativitas warga, dan kolaborasi di sektor kuliner, kerajinan, pariwisata, hingga festival,” papar Vicky.
Senada dengan hal itu, Sekretaris Eksekutif ICCN, Mario Devys, meluruskan miskonsepsi publik mengenai istilah “Kota Kreatif”.
Menurutnya, kota kreatif bukan sebatas wilayah yang dipenuhi oleh ornamen visual atau instalasi seni di setiap sudut jalanan, melainkan sebuah ekosistem yang menghidupkan inovasi.
Ia mencontohkan kisah sukses Kota Malang yang belum lama ini sukses diakui dunia oleh UNESCO sebagai jaringan kota kreatif dunia (UNESCO Creative Cities Network) untuk kategori Media Arts.
”Ekonomi kreatif hanya bisa melompat pesat apabila seluruh pemangku kepentingan (pentahelix) bekerja sama secara kolektif, memiliki peta jalan yang rigid, serta disokong penuh oleh regulasi kepala daerah dan fasilitas infrastruktur yang memadai,” urai Mario mendikte.
Sementara itu, dari sudut pandang manajemen acara, Wakil Direktur Festival dan Aktivasi ICCN, Aditya Bayu S., mengajak pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk mengubah cara pandang dalam mengeksekusi sebuah festival kebudayaan daerah.
“Festival jangan hanya dipandang sebagai proyek seremonial yang menghabiskan anggaran, melainkan harus dipandang sebagai investasi daerah. Festival yang dikelola secara profesional akan tumbuh dari acara musiman biasa menjadi identitas komunal sekaligus destinasi wisata unggulan yang memutar roda ekonomi rakyat, seperti fenomena Grebeg Suro di Ponorogo,” kata Aditya.
Lebih lanjut, Aditya mengingatkan tantangan festival di era modern.
Manajemen festival wajib beradaptasi dengan tren zaman lewat pemanfaatan teknologi digital, pengayaan pengalaman pengunjung (visitor experience), pelibatan komunitas lokal secara aktif, dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan (sustainability).
Agenda diskusi ilmiah yang dimoderatori oleh dosen FE Unigoro, M. Rizqi Agustino, MBA., ini berjalan sangat dinamis dan interaktif.
Ratusan mahasiswa-mahasiswi FE Unigoro tampak agresif memanfaatkan momentum ini untuk memberondong para praktisi ICCN dengan pertanyaan taktis terkait peluang bisnis ekraf di era digital.
Melalui forum ini, FE Unigoro berharap dapat mencetak jajaran promotor dan wirausahawan muda baru yang siap menggeser ketergantungan ekonomi Bojonegoro dari sektor industri ekstraktif menuju industri kreatif yang tak terbatas oleh waktu. (*/red)












