Porsi anggaran tersebut didistribusikan kepada 15.925 buruh pabrik rokok yang tersebar di sejumlah korporasi industri hasil tembakau di seluruh wilayah Bojonegoro.
Adapun nominal bantuan yang diterima oleh masing-masing pekerja pada periode ini ditetapkan sebesar Rp875 ribu.
Angka ini disesuaikan secara logis dengan kondisi riil ruang fiskal daerah terkini serta lonjakan signifikan pada jumlah penerima manfaat di lapangan.
Nurul Azizah menegaskan, Bojonegoro patut berbangga karena menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang paling konsisten mempertahankan serta mengawal program bantuan tunai bagi buruh rokok ini sejak akhir tahun 2023.
Menurutnya, keberlanjutan program ini menjadi bukti konkret keberpihakan eksekutif terhadap roda ekonomi wong cilik di sektor tembakau.
Menambahkan penjelasan teknis, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro Agus Susetyo Hardiyanto menjelaskan bahwa eksekusi penyaluran bantuan di klaster pabrik besar dipecah ke dalam dua gelombang utama demi kelancaran administrasi.
Gelombang pertama telah sukses dilaksanakan di area PT Gelora Djaja Baureno pada 13 Mei 2026 lalu, sedangkan gelombang kedua yang menjadi puncaknya berlangsung di MPS Dander pada hari ini.
“Melalui sistem pengawasan ketat, hingga saat ini total dana stimulus yang sudah berhasil tersalurkan ke rekening para pekerja mencapai Rp12,74 miliar dari total pagu yang disiapkan,” urai Agus.
Lewat bergulirnya program BLT DBHCHT 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menaruh harapan besar agar daya beli masyarakat di tingkat akar rumput tetap kokoh terjaga, ketahanan ekonomi keluarga buruh pabrik rokok semakin kuat, serta esensi dari pemanfaatan dana bagi hasil cukai benar-benar berdampak langsung secara positif bagi masyarakat yang berhak.(red/pim)













