Kepribadian atau watak setiap anak merupakan turunan dari orangtuanya. Sehingga orangtua pun juga harus belajar dalam sikap dan emosi saat membimbing tumbuh kembang anak.
“Jadi jika orangtua dulu dididik dengan keras jangan mendidik ke anak dengan keras juga. Karena sebagai orangtua juga harus mengerti ketika anak mengekspresikan emosinya seperti ketika curhat atau ketika sedih menangis. Dan orangtua pun tidak apa-apa konsultasi ke psikiater maupun psikolog mengenai masalah anaknya,” tambahnya.
dr Menina berpesan agar jika terjadi masalah pada kesehatan mental anak, sampaikan kepada yang bersangkutan atau orang terdekat. Bukan memendamnya karena dapat mengakibatkan emosi yang meledak di suatu waktu. Akan tetapi cara penyampaiannya juga harus dengan sadar, realistis, rasional, objektif dan proporsional.
Ia berharap masyarakat, khususnya orangtua, tetap belajar dalam mendidik anak meskipun anak sudah dewasa. Dan bagi anak-anak, jangan memendam masalah sendirian. Lebih baik ceritakan kepada orang terdekat yang dinilai baik agar mendapatkan saran yang baik juga tidak keluar jalur dari yang semestinya. Terutama ceritakan kepada orangtua.
Sementara itu, menurut drg Fajar Respati, bahwa ada keterkaitan antara kesehatan mental dengan pola pikir generasi muda. Dengan talkshow ini, diharapkan bisa men-screening kesehatan jiwa. Jika terdapat tanda-tandanya maka perlu ditindaklanjuti segera, seperti konsultasi sharing untuk tumbuh kembang remaja kedepannya.
Ia juga menjelaskan, Dinkes Bojonegoro telah mengadakan workshop kesehatan jiwa bagi remaja secara rutin dengan mengundang para guru, siswa, kader jiwa dari desa serta puskesmas.
“Ketidakstabilan emosi terjadi pada saat remaja. Maka kita sasar murid SMP dan SMA. Maka dari itu kita harapkan dengan adanya pembahasan ini para guru BK maupun guru di UKS dapat mengenali muridnya secara kesehatan dan mental karena akan mempengaruhi tumbuh kembang anak hingga dewasa,” tuturnya.













