Namun sayang, takdir berkata lain.
Setelah dilakukan pemeriksaan intensif oleh tim medis, ketiga balita tersebut dinyatakan telah meregang nyawa.
Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, membenarkan adanya insiden maut yang merenggut tiga nyawa balita sekaligus di wilayah hukum Polsek Sreseh.
Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan penyelidikan awal, peristiwa ini murni merupakan kecelakaan akibat kurangnya pengawasan saat anak-anak bermain.
“Peristiwa ini merupakan musibah yang sangat memprihatinkan kita semua. Dari hasil pemeriksaan awal dan keterangan para saksi, ketiga korban diduga kuat tenggelam saat bermain di sekitar sumur atau embung air tersebut. Pihak keluarga juga sudah menerima dengan ikhlas, menyatakan ini musibah, dan membuat surat pernyataan tidak menempuh jalur hukum,” terang AKP Eko Puji Waluyo.
Pasca-kejadian, personel Polsek Sreseh bersama tim identifikasi langsung mengamankan lokasi, meminta keterangan sejumlah saksi kunci, serta mengumpulkan dokumen administrasi guna melengkapi laporan kepolisian.
Berkaca dari tragedi memilukan di Desa Junok ini, Polres Sampang mengeluarkan warning keras dan mengimbau secara masif kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka, terutama yang masih usia di bawah lima tahun (balita).
“Kami mengetuk kesadaran para orang tua agar benar-benar melekat dan tidak lengah sedikit pun dalam mengawasi anak-anaknya. Pastikan mereka tidak dilepas bermain di area yang memiliki risiko tinggi seperti dekat sumur, embung, sungai, kolam, atau perairan lainnya guna mencegah terulangnya kejadian tragis serupa,” tegas Kasi Humas.
Sebagai informasi, lokasi kubangan air tersebut merupakan sumur atau embung terbuka yang sehari-hari dimanfaatkan secara komunal oleh warga Dusun Sabu’uk untuk menopang kebutuhan air rumah tangga seperti memasak dan mencuci, dan sama sekali bukan diperuntukkan sebagai fasilitas pemandian umum atau tempat bermain anak-anak. (tss)













