Ads
Pemerintahan

Ratusan Mahasiswa UB Gelar KKNT di Bojonegoro, Bupati Setyo Wahono Dorong Inovasi Pembangunan Desa

syailendraachmad51
×

Ratusan Mahasiswa UB Gelar KKNT di Bojonegoro, Bupati Setyo Wahono Dorong Inovasi Pembangunan Desa

Sebarkan artikel ini
1000347934

BOJONEGORO||TRANSISINEWS – Sebanyak 487 mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya (UB) Malang resmi memulai Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) di Kabupaten Bojonegoro. Ratusan mahasiswa tersebut akan melaksanakan pengabdian masyarakat selama satu bulan penuh, terhitung mulai 1 hingga 30 Juli 2026.

​Prosesi pemberangkatan dan penyambutan ratusan mahasiswa ini dipimpin langsung oleh Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono, di Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro, Rabu (1/7/2026).

​Agenda strategis ini turut dihadiri Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan UB, Muhammad Halim Natsir; Plt. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth; jajaran akademisi, kepala perangkat daerah, serta para mahasiswa peserta KKNT.

 

​Dalam sambutannya, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono melayangkan apresiasi tinggi atas kepercayaan Universitas Brawijaya yang kembali menunjuk Kabupaten Bojonegoro sebagai lokus pengabdian KKNT. Menurutnya, kolaborasi taktis antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah merupakan pilar penting dalam memecahkan berbagai tantangan pembangunan di tingkat tapak desa.

​Bupati menilai, KKNT merupakan laboratorium sosial yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk menyelami denyut kehidupan masyarakat secara riil, mengasah kepekaan komunikasi, beradaptasi dengan kultur baru, sekaligus menguji keandalan ilmu akademik di lapangan.

​Ia menambahkan, sektor peternakan di Bojonegoro memiliki tantangan yang sangat kompleks dan multidimensi—mulai dari ketersediaan pakan berkualitas, manajemen pemeliharaan, proteksi kesehatan hewan, hingga hilirisasi produktivitas dan peningkatan nilai tambah produk pasca-panen. Karena itu, mahasiswa dituntut adaptif melahirkan solusi aplikatif yang sinkron dengan karakteristik potensi desa setempat.

​”Setiap desa memiliki tantangan yang berbeda. Saya berharap adik-adik mahasiswa dapat belajar sekaligus memberikan dampak nyata melalui inovasi dan ilmu yang dimiliki, sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat peternak di Bojonegoro,” ujar Bupati Setyo Wahono.

 

​Dalam laporan teknisnya, Plt. Kepala Brida Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth, memaparkan bahwa sebanyak 487 mahasiswa peserta KKNT tersebut akan didistribusikan secara merata di 32 desa yang tersebar di empat wilayah kecamatan, dengan rincian:

​Kecamatan Tambakrejo: 10 Desa

​Kecamatan Dander: 10 Desa

​Kecamatan Ngasem: 7 Desa

​Kecamatan Ngambon: 5 Desa

​KKNT periode ini mengusung visi besar melalui tema “Penguatan Kapasitas Peternakan melalui Pendekatan Terpadu untuk Mewujudkan Desa Sejahtera, Mandiri, dan Inovatif Berbasis Peternakan Berkelanjutan.”

​Sejumlah program kerja unggulan telah dimatangkan, meliputi penguatan kapasitas kelembagaan peternak, transfer teknologi tepat guna, digitalisasi sistem pencatatan (recording) usaha peternakan, diversifikasi produk olahan bernilai ekonomi tinggi, hingga penguatan jejaring kemitraan guna menyokong keberlanjutan ekonomi desa.

​”Kami berharap program KKNT ini tidak hanya berhenti pada dokumen laporan kondisi desa di atas kertas, melainkan mampu menelurkan rekomendasi kebijakan dan program pembangunan yang presisi serta sesuai dengan kebutuhan riil masing-masing wilayah,” harap Helmy Elisabeth.

 

​Senada dengan hal itu, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan UB, Muhammad Halim Natsir, menjelaskan bahwa KKNT merupakan ejawantah konkret dari pilar pengabdian masyarakat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

​Melalui skema KKNT, mahasiswa dipacu untuk berinteraksi, melebur dengan kearifan lokal, sekaligus mengonversi teori-teori ilmiah dari bangku kuliah menjadi solusi praktis atas hambatan riil yang dihadapi para peternak di pedesaan.

​”Kami berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk senantiasa menjaga nama baik almamater, pemerintah daerah, dan orang tua. Jadikan momentum pengabdian ini sebagai proses penempaan diri sekaligus kesempatan emas untuk memberikan kemaslahatan nyata bagi masyarakat,” pungkas Halim Natsir.(sy/*)