Fakta di lapangan menunjukkan, sebagian besar penerima bantuan domba kini tak lagi memiliki domba tersebut. Entah dijual, entah lenyap tak berbekas.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pun seolah tak mampu mengontrol keberlangsungan bantuan yang telah dikucurkan.
Rumah-rumah penerima bantuan kini kosong dari domba bantuan, sebuah indikasi nyata bahwa program itu mandek, bahkan bisa dibilang gagal.
Kini, muncul pertanyaan besar, apakah program ayam petelur ini hanya akan menjadi “Reinkarnasi Kegagalan” yang sama dalam bentuk berbeda?
Ataukah ini hanya ganti bungkus dari skema lama yang tak pernah benar-benar menyentuh akar masalah kemiskinan?
Warga Bojonegoro patut waspada. Jangan-jangan, ayam-ayam ini nanti hanya jadi santapan musiman, bukan sumber kesejahteraan jangka panjang.
Akankah masyarakat Bojonegoro kembali menyaksikan bantuan yang disalahgunakan dan akhirnya hilang tanpa jejak?
Kita lihat saja, siapa yang benar-benar diuntungkan dari program ini, masyarakat miskin, atau hanya segelintir pihak di balik layar. (sy)













