Menurutnya, proses pendalaman tidak hanya bertujuan menggali kemampuan teknis dan manajerial semata, melainkan mengunci komitmen yang kuat dari setiap calon pejabat.
”Kami menghendaki calon yang nantinya terpilih benar-benar siap melaksanakan tugas dan kewajiban yang diamanahkan. Pada saat pendalaman ini, kami ingin memastikan adanya kemauan yang kuat dari masing-masing peserta sehingga ketika nanti dipercaya memegang jabatan, mereka dapat menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi,” tegas Edi Susanto.
Pada kesempatan yang sama, salah satu anggota Panitia Seleksi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Tuhana, menjelaskan mekanisme teknis jalannya ujian.
Setiap peserta memperoleh alokasi waktu selama 30 menit, dengan rincian 10 menit untuk presentasi makalah ilmiah dan 20 menit sisanya dipergunakan untuk sesi wawancara pendalaman.
Penilaian secara objektif disandarkan pada tiga instrumen utama yang telah mengacu pada regulasi baku seleksi terbuka JPT Pratama:
”Penilaian dilakukan melalui tiga instrumen, yaitu penilaian dokumen makalah, penilaian kemampuan presentasi, dan penilaian wawancara. Pada tahap wawancara, terdapat sejumlah aspek kompetensi yang harus dicermati secara detail oleh panitia seleksi untuk memastikan kesesuaian peserta dengan kebutuhan jabatan,” terang Tuhana.
Seluruh akumulasi nilai dari setiap tahapan ini nantinya akan menjadi dasar bagi tim pansel dalam menggodok dan menentukan nama-nama peserta terbaik, yang kemudian direkomendasikan untuk mengisi formasi jabatan yang dilamar.
Melalui skema seleksi terbuka dan kompetitif ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berkomitmen melahirkan pejabat pimpinan tinggi pratama yang tidak hanya unggul secara kompetensi dan kaya inovasi, tetapi juga memiliki integritas tinggi dalam mendukung akselerasi pembangunan daerah serta peningkatan kualitas pelayanan publik bagi masyarakat luas. (*/red)













