Lebih lanjut, Nurul menambahkan bahwa rajutan sinergi yang harmonis antara jajaran pemerintah daerah dan lembaga perbankan milik daerah merupakan kunci utama dalam membangun fondasi ekonomi masyarakat yang mandiri serta berdaya saing tinggi.
Dalam aksi sosial ini, para pedagang kembang setaman tidak sekadar membawa pulang tambahan modal usaha senilai Rp500 ribu.
Pihak manajemen bank juga menyelipkan program edukasi literasi keuangan yang inklusif, mulai dari pengenalan budaya menabung sejak dini hingga simulasi manajemen pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha yang sehat.
“Kami berharap ke depan jembatan komunikasi dan hubungan kemitraan antara BPR dengan masyarakat luas bisa terjalin semakin erat. Konsep pendampingannya harus utuh; setelah dibantu modal, warga juga dibimbing bagaimana cara menabung yang aman, mengelola persentase keuntungan dengan bijak, hingga melihat peluang eskalasi usaha yang lebih maju di masa depan,” imbuh Wabup.
Perayaan hari jadi ke-30 BPR Bank Daerah Bojonegoro kali ini sengaja menggaungkan visi besar bertajuk “Tumbuh Bersama Masyarakat, Menguatkan Ekonomi Kerakyatan”.
Spirit utama dari jargon tersebut diimplementasikan secara konkret lewat peluncuran berbagai macam program kerja yang menyentuh langsung klaster masyarakat ekonomi lemah, terkhusus sektor usaha mikro yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan ekonomi daerah saat diterpa badai inflasi.
Melalui intervensi stimulus dan pendampingan yang intensif ini, jajaran pemangku kebijakan berharap para pedagang kembang setaman di Bojonegoro bisa segera naik kelas, memperluas jangkauan pasar, serta semakin tangguh dalam menopang ketahanan ekonomi keluarga maupun daerah secara agregat.(red)













