”Remaja harus dibekali keterampilan hidup agar mampu merencanakan masa depan secara matang. Ini adalah bagian dari upaya kita memutus rantai risiko sosial yang sering muncul akibat perkawinan usia dini,” tegas H. Sun’an.
Dalam sesi inti, dua fasilitator yakni M. Ulil Absor dan Hamim Thohari memaparkan materi secara interaktif.
Selain mengulas dampak negatif pernikahan dini dari sudut pandang sosial dan kesehatan, para siswa juga diajarkan teknik pengelolaan diri.
Materi tersebut meliputi cara mengenali potensi pribadi, pengendalian emosi, hingga simulasi penyusunan rencana hidup yang lebih terarah.
Pihak sekolah, melalui Kepala SMKN 2 Bojonegoro, menyambut positif kegiatan ini karena dinilai sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik di era dinamis saat ini.
Melalui program BRUS, Kemenag Bojonegoro berkomitmen mencetak generasi yang lebih sadar akan pentingnya pendidikan dan memiliki kematangan dalam mengambil keputusan demi masa depan yang lebih cerah.)(red)













