Program intervensi tahun 2026 ini merupakan kelanjutan dari bantuan TJSL PLN UIP JBTB pada tahun 2024 silam, yang sebelumnya berfokus pada penyediaan sarana membatik serta pelatihan keahlian dasar dan desain. Melalui pendampingan yang berkesinambungan ini, Batik Kalipuro diharapkan mampu tampil percaya diri memikat para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Papring maupun menembus pasar digital yang lebih luas.
Ketua Pokmas Jemparing Wangi, Widie Nurmahmudy, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang konsisten dari PLN UIP JBTB.
“Bantuan ini dampaknya sangat mendalam bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu di lingkungan Papring. Selain mengasah keterampilan teknis membatik, kami juga diajarkan cara berjualan secara digital dan dilindungi secara hukum lewat HAKI. Ini membuka peluang usaha baru yang nyata, sehingga para perempuan di sini bisa mandiri dan membantu perekonomian keluarga lewat produk batik khas Kalipuro,” ungkap Widie.
Melalui sinergi ini, PLN UIP JBTB berharap Batik Kalipuro tumbuh menjadi produk unggulan daerah yang tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru dan menekan angka pengangguran, tetapi juga menjadi instrumen efektif dalam merawat identitas budaya Banyuwangi secara harmonis bersama masyarakat dan pemerintah daerah. (@dex)













