Ads
OpiniPemerintahanRagam

Dinilai Gagal Kawal Program MBG, MCS Kritik Tajam Satgas Sampang: Seperti Macan Ompong!

syailendraachmad51
×

Dinilai Gagal Kawal Program MBG, MCS Kritik Tajam Satgas Sampang: Seperti Macan Ompong!

Sebarkan artikel ini
IMG 20260710

MCS menemukan fakta lapangan bahwa penanganan sampah dinilai diabaikan oleh pemilik dapur, bahkan terdapat aktivitas pembuangan sampah di luar tempat yang semestinya, serta belum adanya sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memenuhi standar lingkungan.

Kondisi ini membuat kinerja Tim Satgas di tingkat Kabupaten Sampang dikritik tajam dan diibaratkan seperti “macan ompong”.

Meskipun program pemenuhan gizi ini terus menuai pro dan kontra di masyarakat bawah, tim penegak hukum serta pihak berwenang yang masuk dalam struktur satgas terkesan diam dan dinilai lari dari tanggung jawab.

Kritik lantang tersebut disampaikan langsung oleh Ketua MCS, Fathur Rahman, di tengah jalannya diskusi.

Pria yang akrab disapa Mamang ini menilai, tim satgas tidak bekerja secara profesional, serta menegaskan bahwa aparat penegak hukum tidak memiliki keberanian untuk menindak pelanggaran operasional yang terjadi di setiap dapur SPPG, mereka hanya bertugas, dalam pengawasan teknis, pendistribusian, hanya kordinasi lintas sektor, evaluasi pelaporan dan pemecahan penyimpangan namun tidak bisa menindak terkesan diam.

“Saya menilai kinerja Tim Satgas Kabupaten Sampang seperti macan ompong karena mereka terkesan ambigu dan tidak berani menindak temuan di lapangan setiap permasalahan yang cukup krusial, mereka tidak berani menindak dan hanya jalan ditempat, hanya fokus pada 5 poin yang menurut mereka benar . Kami berharap jajaran OPD yang dikomandoi Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, dan Asisten I lebih baik fokus pada RPJMD 2026 yang menyentuh penataan kabupaten secara nyata, bukan program seperti ini,” tegas mantan Ketua PWI Sampang saat situasi audiens mulai memuncak.

Mamang menambahkan bahwa aparat penegak hukum, baik TNI maupun Polri, seharusnya mengambil andil besar dalam mengawasi program strategis nasional ini agar berjalan lancar sesuai Petunjuk Teknis (Juknis).

Namun, suasana audiensi yang digelar di Kantor Pendopo 2 itu mendadak memanas karena formasi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang hadir ternyata tidak lengkap.

“Meskipun ada beberapa OPD yang tidak menghargai kami, setidaknya hargailah Tim Satgas itu sendiri. Salah satunya adalah Dinas Kesehatan serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH), karena instansi-instansi yang saya sebutkan tadi merupakan sektor paling sentral dalam menyukseskan program ini,” ujar Mamang dengan nada kecewa.

Menutup implementasi audiensi, hal cukup sederhana, baik sacara etika dalam bentuk penghormatan , se kelas pemerintahan minimnya persiapan dalam menghargai ormas atau lembaga telihat jelas tak ada fasilitas air minum yang disuguhi, sehingga peserta audiensi menjamu para pejabat yang hadir menggunakan uang pribadinya.

Ketua MCS mengecam keras sikap pasif dari aparat penegak hukum yang terlibat di dalam struktur kepengurusan program kepresidenan tersebut.

Ia mengingatkan dengan tegas bahwa TNI dan Polri memiliki tanggung jawab moral untuk bekerja secara profesional mengingat seluruh fasilitas dan gaji mereka bersumber langsung dari uang rakyat.

Kekecewaan MCS semakin memuncak menyusul absennya perwakilan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) dan Polres Sampang yang dinilai ikut bertanggung jawab dalam fungsi pengawasan.

Melihat situasi audiensi berakhir buntu tanpa solusi konkret serta minimnya , MCS menyatakan akan menjadwalkan ulang pertemuan resmi dan mendesak kepala daerah untuk mengonsolidasikan seluruh OPD terkait secara lebih akomodatif.(tss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *