Strategi deteksi dini ini diperkuat dengan penggunaan teknologi portable X-ray berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk skrining kelompok berisiko tinggi.
Sasaran utama program ini meliputi kontak erat pasien TBC, penderita HIV, pasien diabetes melitus, individu dengan gizi kurang, hingga perokok.
Saat ini, layanan portable X-ray telah tersedia di RS Muna Anggita dan RS Padangan, serta dijadwalkan menjangkau wilayah dengan angka kasus tinggi seperti Kecamatan Ngasem, Padangan, dan Purwosari.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Rizki Diah, Sp.P menegaskan bahwa TBC merupakan penyakit infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang menular melalui udara.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengandalkan pengobatan herbal semata karena TBC memerlukan penanganan medis yang tepat dan tuntas guna mencegah risiko penularan lebih luas atau kondisi yang semakin parah.
Kelompok dengan daya tahan tubuh rendah seperti anak-anak, lansia, dan penderita malnutrisi disebut memiliki risiko infeksi lebih tinggi.
Selain itu, lingkungan padat hunian seperti asrama, pondok pesantren, dan lembaga pemasyarakatan juga menjadi perhatian serius dalam pengawasan penyebaran penyakit ini.
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai gejala umum seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam, dan keringat pada malam hari.
Melalui sinergi pemanfaatan teknologi dan peningkatan kesadaran warga untuk memeriksakan diri, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro optimis target eliminasi TBC 2030 dapat tercapai demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.(red)













