BOJONEGORO||TRANSISINEWS – Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro terus mempertegas komitmennya dalam mencapai target eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030.
Langkah strategis dilakukan melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi medis terkini untuk memutus rantai penularan di masyarakat.
Komitmen tersebut dipaparkan dalam talkshow “SAPA! Malowopati FM” bertema Ready To Run For Eliminating Tuberculosis 2030, Jumat (27/03/2026).
Agenda ini menghadirkan Sub Koordinator Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan Bojonegoro, Paiman, S.Kep., M.Epid., serta dokter spesialis paru, dr. Rizki Diah, Sp.P.
Paiman menjelaskan bahwa target nasional eliminasi TBC 2030 adalah menurunkan angka kejadian hingga 65 per 100.000 penduduk, dengan angka kematian di bawah 6 per 100.000 penduduk.
Menyambut momentum Hari TBC Sedunia yang jatuh pada 24 Maret, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengusung semangat “Satu TB, Sinergikan Aksi” sebagai penggerak kolaborasi aktif.
Upaya penanggulangan kini bergeser dari sekadar menunggu pasien di fasilitas kesehatan menjadi pencarian kasus secara aktif di tengah masyarakat.
Mulai April 2026, kegiatan active case finding akan serentak dilaksanakan di 36 puskesmas se-Kabupaten Bojonegoro.
Strategi deteksi dini ini diperkuat dengan penggunaan teknologi portable X-ray berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk skrining kelompok berisiko tinggi.
Sasaran utama program ini meliputi kontak erat pasien TBC, penderita HIV, pasien diabetes melitus, individu dengan gizi kurang, hingga perokok.
Saat ini, layanan portable X-ray telah tersedia di RS Muna Anggita dan RS Padangan, serta dijadwalkan menjangkau wilayah dengan angka kasus tinggi seperti Kecamatan Ngasem, Padangan, dan Purwosari.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Rizki Diah, Sp.P menegaskan bahwa TBC merupakan penyakit infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang menular melalui udara.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengandalkan pengobatan herbal semata karena TBC memerlukan penanganan medis yang tepat dan tuntas guna mencegah risiko penularan lebih luas atau kondisi yang semakin parah.
Kelompok dengan daya tahan tubuh rendah seperti anak-anak, lansia, dan penderita malnutrisi disebut memiliki risiko infeksi lebih tinggi.
Selain itu, lingkungan padat hunian seperti asrama, pondok pesantren, dan lembaga pemasyarakatan juga menjadi perhatian serius dalam pengawasan penyebaran penyakit ini.
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai gejala umum seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam, dan keringat pada malam hari.
Melalui sinergi pemanfaatan teknologi dan peningkatan kesadaran warga untuk memeriksakan diri, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro optimis target eliminasi TBC 2030 dapat tercapai demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.(red)













