LAMONGAN||TRANSISINEWS — Di tengah gegap gempita peresmian Stadion Surajaya Lamongan pada Maret 2025 lalu, siapa sangka, terselip kisah getir yang mencabik harapan rakyat kecil. Senin (7/7/2025)
Sebuah warung sederhana di Jalan Pahlawan, yang selama berbulan-bulan menjadi tumpuan logistik para pekerja proyek, kini justru terjerat lilitan utang akibat kelalaian pihak pelaksana proyek.
Adalah Rofiah, warga Desa Kebonagung, Kecamatan Babat, yang menjadi salah satu korban nyata dari skandal ini.
Warungnya yang dahulu ramai oleh pesanan makan dan minum para pekerja kini sepi namun menyisakan tumpukan utang sebesar Rp173 juta yang belum dibayar.
“Mereka makan, minum, bahkan beli rokok di tempat saya setiap hari. Tapi setelah stadion selesai, semuanya pergi tanpa pamit… tanpa bayar,” lirih Rofiah dengan mata berkaca-kaca.
Perempuan yang juga merawat ibunya yang sudah renta dan membesarkan tiga anak salah satunya yatim kini harus berutang ke sana kemari demi menutup biaya hidup. Pendapatan dari warungnya habis untuk membayar ‘bon’ yang tak kunjung dilunasi.
Ironisnya, PT Wika Bangunan Gedung, kontraktor utama pembangunan stadion, disebut sebagai pihak yang belum menyelesaikan kewajiban kepada pekerja proyek dan para penyedia konsumsi lokal.













