Ia berharap forum seperti ini bisa terus digelar sebagai jembatan antara pemerintah, masyarakat, dan para pelaku prestasi di daerah.
Kepala Dinas Kominfo Bojonegoro, Heri Widodo, yang juga hadir dalam Kopidarad menambahkan bahwa momen Agustus ini juga menjadi momen sejarah dari kehadiran radio dalam perjuangan bangsa.
“Dahulu, radio digunakan untuk menyuarakan kemerdekaan. Sekarang, kita manfaatkan untuk menyuarakan prestasi,” ujarnya. Ia menyebut acara seperti ini sebagai bentuk komunikasi aspiratif sekaligus hiburan edukatif agar masyarakat semakin terlibat aktif dalam pembangunan.
Ketua Umum KONI Bojonegoro, Sahari lantas menyambung dengan pemaparan tentang perkembangan menggembirakan dalam ajang Porprov Jatim IX 2025. Tahun ini, Bojonegoro berhasil meraih 8 medali emas, 20 perak, dan 29 perunggu, naik dari capaian tahun 2023 yang hanya 7 emas.
Dalam klasemen perolehan emas, Bojonegoro berada di peringkat ke-16 Jawa Timur, dan berdasarkan poin gabungan (emas, perak, perunggu) di posisi ke-18. “Target kami di tahun 2029 minimal masuk 15 besar Jawa Timur,” tegasnya optimis.
Kopidarad ini memang didesain untuk menjadi ruang dua arah. Warga bisa langsung bertanya dan langsung dijawab. Salah satunya adalah Priyanka, warga Kauman, yang menanyakan pembinaan atlet usia dini. Disambung Afid Zainudin, wali dari atlet catur, mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap atlet muda berpotensi.
Wakil Bupati Nurul Azizah dengan lugas menjelaskan bahwa Pemkab Bojonegoro telah menyiapkan anggaran khusus untuk reward dan pembinaan setiap atlet berprestasi. Semua diarahkan agar potensi lokal tidak hanya tumbuh, tapi juga diperhatikan.
Keseruan semakin bertambah ketika atlet catur Bojonegoro diajak bermain langsung melawan warga. Salah satunya, Hari, warga Kanor, yang mencoba keberuntungannya. Ia harus mengakui kehebatan sang atlet setelah kalah dalam dua babak.
“Saya pikir bisa menang, tapi ternyata strateginya luar biasa,” ucap Hari sambil tertawa.
Kopidarad membuktikan bahwa kemerdekaan bisa dirayakan dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Seperti pagi itu, di jantung kota Bojonegoro yang bebas dari deru mesin kendaraan, hadir semangat yang menyatukan. Bahwa setiap orang, dari pejabat hingga warga, dari atlet hingga pendengar radio, punya peran penting dalam membangun bangsa.(red)













