“Ilmu pertolongan pertama sangat penting. Jangan sampai niat menolong justru membuat kondisi korban semakin parah karena teknik evakuasi yang salah,” ujarnya.
Lettu CKM Purnomo juga mengajak seluruh peserta yang memenuhi syarat kesehatan untuk ikut mendonorkan darah pada kegiatan donor darah yang dijadwalkan dalam rangkaian TMMD.
Menurutnya, setiap tetes darah yang disumbangkan dapat menjadi harapan hidup bagi orang lain.
Materi sosialisasi disampaikan oleh Staf Penanggulangan Bencana dan Yankessos PMI Kabupaten Bojonegoro, Wahyu Theo Alfian.
Dia menilai perangkat desa dan anggota Linmas merupakan kelompok yang paling sering berada di garis depan saat terjadi kecelakaan maupun bencana di wilayah desa.
Karena itu, mereka menjadi sasaran yang tepat untuk memperoleh pelatihan pertolongan pertama.
Wahyu berharap peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melakukan tindakan penyelamatan dengan aman tanpa membahayakan diri sendiri.
“Seorang penolong harus mengetahui cara yang benar. Jangan sampai niat membantu justru membuat dirinya ikut menjadi korban karena kurangnya pengetahuan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Wahyu juga menyampaikan bahwa rangkaian edukasi PMI di Desa Kesongo akan berlanjut.
Pada 4 Agustus mendatang, sosialisasi akan menyasar siswa SD Negeri Kesongo 1 dan SD Negeri Kesongo 2, sedangkan pada 7 Agustus akan digelar kegiatan donor darah di Balai Desa Kesongo.
Tak hanya menerima materi teori, peserta juga mengikuti praktik langsung teknik pertolongan pertama, penggunaan peralatan evakuasi, hingga prosedur dasar penyelamatan korban.
Melalui simulasi tersebut, peserta diharapkan memiliki kemampuan dasar untuk memberikan bantuan secara cepat, tepat dan aman sebelum korban mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara TNI, PMI, Pemerintah Desa dan masyarakat dalam memperkuat budaya tanggap bencana sekaligus meningkatkan kapasitas warga sebagai penolong pertama di lingkungan masing-masing.
Dengan bekal pengetahuan tersebut, diharapkan angka risiko korban akibat keterlambatan maupun kesalahan penanganan dapat ditekan, sekaligus memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai kondisi darurat.(sy)













