Ads
Peristiwa

Penasehat Hukum Dari Terdakwa DW Dan BP Warinussy, Kaget Atas Bacaan Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

mmcnews00
×

Penasehat Hukum Dari Terdakwa DW Dan BP Warinussy, Kaget Atas Bacaan Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sebarkan artikel ini
Img 20250502 wa0003

Papua Barat- Transisinews.com. Sebagai Penasihat Hukum dari Terdakwa D.A.Winarta dan Terdakwa Bambang Pramujito, saya benar- benar dikagetkan dengan bentuk Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua Barat terhadap kedua klien saya yang dibacakan pada persidangan Selasa (29/4) di Pengadilan Negeri Manokwari Kelas I B. Kagetnya kami, Kata Warinussy Kepada Awak Media

“karena kami memandang bahwa saudara Jaksa Mustar, SH, MH dan timnya sama sekali tidak mempertimbangkan fakta yang terungkap di persidangan kedua klien kami tersebut. Klien kami D.A.Winarta selama persidangan sama sekali tidak disebutkan terlibat dalam berbagai kegiatan teknis pembangunan Gedung Kantor Dinas Perumahan Rakyat Provinsi Papua Barat tahap III Tahun Anggaran 2017.

sembari Warinussy Menambahkan Keterlibatan teknis mulai dari tahap pembangunan hingga finishing nya hanya dikerjakan oleh anak kandung Terdakwa Winarta, yaitu Terdakwa Bambang Pramujito. Keterlibatan klien kami D.A.Winarta hanya pada saat membuat kesepakatan tertulis dengan saksi Marinus Bonepay (Direktur CV.Maskam Jaya) di depan Notaris Nina Diana, SH pada tanggal 28 September 2017 Nomor : 46.

Img 20250502 wa0017
Dokumentasi

Kesepakatan dengan judul Perjanjian Kerjasama tersebut sesungguhnya perikatan untuk saksi Bonepay bertugas mencari pekerjaan di Pemerintah Provinsi Papua Barat. Selanjutnya jika saksi Marinus Bonepay memperoleh pekerjaan, maka Terdakwa D.A.Winarta akan memodali pekerjaan tersebut dengan sistem pembagian keuntungan 30 persen bagi saksi Bonepay dan Terdakwa Winarta mendapat bagian 70 persen.”Ucapnya

Namun demikian hingga akhir tahun 2017 menurut keterangan Terdakwa D.A.Winarta kesepakatan tersebut tidak berjalan dan tidak terjadi pembagian keuntungan sesuai isi perjanjian tersebut, karena saksi Bonepay tidak memperoleh pekerjaan. Pekerjaan Pembangunan Kantor Dinas Perumahan Rakyat Provinsi Papua Barat Tahun Anggaran 2017 justru diperoleh Terdakwa Bambang Pramujito melalui LPSE. Sehingga kemudian Terdakwa Bambang Pramujito meminjam perusahan milik almarhum Leo Primer Saragih yaitu PT.Trimese Perkasa guna mengikuti lelang.

Namun di dalam pelelangan ada syarat untuk adanya perusahaan milik Orang Asli Papua (OAP), maka Terdakwa Bambang Pramujito meminjam lagi perusahaan milik saksi Marinus Bonepay yaitu CV.Maskam Jaya untuk mendampingi PT Trimese Perkasa dalam pelelangan. Singkat cerita, PT Trimese Perkasa menjadi pemenang lelang dan kemudian ditetapkan sebagai pelaksana pekerjaan pembangunan Gedung Kantor Dinas Perumahan Rakyat Provinsi Papua Barat Tahap III Tahun Anggaran 2017 tersebut. Jelas Warinussy

“Di dalam Surat tuntutannya juga Jaksa Penuntut Umum (JPU) sama sekali tidak mencantumkan kedua akta notaris mengenai Perjanjian Kerjasama antara Terdakwa D.A.Winarta dengan Saksi Marinus Bonepay maupun akta notaris pinjam pakai perusahaan PT Trimese Perkasa sebagai bukti. Akan tetapi JPU mencantumkan 15 bukti yang justru memiliki “kontradiksi” Pungkasnya

dengan kontrak pekerjaan dan realisasi pekerjaan yang sudah diselesaikan oleh klien kami Terdakwa Bambang Pramujito bersama para tukangnya dan pekerjaan sudah diserahterima kan kepada pihak Dinas Perumahan Rakyat Provinsi Papua Barat saat itu. Kami tim Penasihat Hukum Terdakwa D.A.Winarta dan Terdakwa Bambang Pramujito akan menyampaikan nota pembelaan (pledoi) pada hari Senin (5/5) pada sidang lanjutan perkara pidana nomor : 33/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Mnk dan nomor : 34/Pid.Sus-TPK/2024/PN.Mnk tersebut. Tutup Warinussy