Pers harus beradaptasi tanpa mengorbankan standar.
Tiga hal mendesak dilakukan.
Pertama, kembalikan disiplin verifikasi. Kecepatan boleh, tapi akurasi tidak bisa dinegosiasi. Satu kesalahan cukup meruntuhkan kepercayaan bertahun-tahun.
Kedua, perkuat liputan berbasis data dan lapangan. Tulisan yang bisa diuji, bisa ditelusuri, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari pembaca. Stop daur ulang pernyataan pejabat.
Ketiga, bangun model bisnis yang tidak menjadikan pembaca sebagai produk. Langganan, keanggotaan, dan hibah jurnalisme independen perlu diperluas. Publik mau membayar jika informasi yang disajikan benar-benar membantu mereka memahami dunia.
Tanggung jawab juga ada di sisi pembaca. Berhenti menyebar tangkapan layar tanpa sumber.
Berhenti memilih berita hanya karena judulnya memuaskan emosi. Dukungan pada media independen adalah investasi pada ruang publik yang sehat.
Pemerintah dan perusahaan pun punya kewajiban. Keterbukaan informasi bukan hadiah, tapi amanat konstitusi.
Akses data dan jawaban atas konfirmasi adalah bahan baku demokrasi yang berfungsi.
Pilar keempat memang rapuh, tapi belum patah.
Ia rapuh karena ditinggalkan, bukan karena tidak dibutuhkan.
Selama masih ada warga yang ingin tahu kebenaran, ruang untuk jurnalisme tetap ada.
Bangkitlah media! Bukan untuk menjadi oposisi, tapi untuk menjadi penyeimbang. Bukan untuk menjadi populer, tapi untuk menjadi akurat.
Karena ketika pers menyerah, yang mati bukan berita.
Yang mati adalah kemampuan kita menyebut sesuatu dengan nama yang sebenarnya.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional.(red)













