BOJONEGORO||TRANSISINEWS — Sebagai langkah nyata memperkuat tali silaturahmi dan menjaga iklim kondusif, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bojonegoro memprakarsai doa bersama lintas agama di Pendopo Masjid Babus Shofa, Jalan Basuki Rahmad, Sabtu (22/8/2026) malam.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 250 jemaah serta dipimipin para tokoh masyarakat dan agama ini dilaksanakan sebagai ikhtiar batiniah memohon keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi bangsa Indonesia di tengah dinamika nasional.
Ketua FKUB Kabupaten Bojonegoro, H. Hanafi, M.M., menegaskan bahwa momentum doa bersama ini menjadi landasan moral untuk menjaga kerukunan antarumat beragama di daerah.
”Sebagai hamba Tuhan, kewajiban kita adalah berdoa agar negara tetap aman, para pemimpin diberikan kesehatan, serta tercipta suasana toto tentrem kerto raharjo. Mari satukan langkah mewujudkan Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan,” ujar Hanafi.
Hal senada disampaikan oleh KH Robawi Afni, selaku pengasuh Ponpes Bening Samudro Bojonegoro.
Menurutnya, partisipasi masyarakat dalam doa bersama ini merupakan wujud pengabdian nyata untuk menjaga iklim kondusif serta mendoakan kebaikan kepemimpinan nasional.
”Kami hadir mendoakan agar Presiden Prabowo dan seluruh bangsa Indonesia senantiasa dalam lindungan Allah SWT,” tuturnya.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama berturut-turut dari para tokoh pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Khonghucu, serta pembacaan 7 poin seruan moral yang dipimpin oleh Ketua FKUB Bojonegoro.
Adapun isi seruan moral tersebut menekankan pentingnya:
1.Senantiasa aktif dan proaktif menjalin komunikasi dan silaturahmi antar pengurus dan umat beragama.
2.Senantiasa menjalin sinergi dan kolaborasi dalam aktivitas keumatan dan kemasyarakatan.
3.Senantiasa mengantisipasi dan mengeliminasi kesalahfahaman yang mengarah pada perpecahan umat dan masyarakat.
4.Senantiasa menjaga kondusivitas dan mengarusutamakan rukun, guyub, dan damai.
5.Menghindarkan umat dan masyarakat dari berbagai perpecahan dan konflik, serta menjauhkan dari keadaan disintegrasi bangsa.
6.Berkomitmen selalu menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia dari upaya-upaya yang mengarah pada disintegrasi bangsa.
7.Menjunjung tinggi berbagai kearifan lokal sebagai kekayaan bangsa Indonesia.
Sejumlah tokoh lintas agama yang hadir di antaranya Hokiang San / Pak Santoso (Khonghucu), I Ketut Sulaste (Hindu), Romo Antonius Saptowidodo dan Fransiscus Sarman (Katolik), Pendeta Joko Waluyo (Kristen), KH Ikhwanuddin (Muhammadiyah), Mas Edi Arto (LDII), serta Pengasuh Ponpes Al-Rosyid sekaligus Ketua MUI Bojonegoro KH Alamul Huda (Gus Huda), Pengasuh Ponpes Bening Samudro KH. Robawi Afni.(sy)












