Ads
Pemerintahan

Hari Krida Pertanian 2026: Sektor Tani Tumbuh 11,38 Persen, Bojonegoro Melesat Jadi Penghasil Padi Terbesar Kedua di Jatim

syailendraachmad51
×

Hari Krida Pertanian 2026: Sektor Tani Tumbuh 11,38 Persen, Bojonegoro Melesat Jadi Penghasil Padi Terbesar Kedua di Jatim

Sebarkan artikel ini
IMG 20260621 WA0122

​“Kami telah melakukan langkah antisipasi melalui penguatan infrastruktur pengairan dan manajemen air yang rigid. Selain itu, kami juga mulai mengoptimalkan pemanfaatan benih Gamagora 7, atau yang biasa dikenal sebagai varietas padi ‘Amphibi’, karena memiliki adaptasi tinggi di lahan kering maupun basah,” beber Zaenal.

​Sektor pertanian terbukti menjadi juru selamat perekonomian daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Bojonegoro tanpa sektor pertambangan (Migas) pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh ekspansif sebesar 7,34 persen (y-on-year).

Angka ini menunjukkan pemulihan luar biasa dibanding kondisi tahun 2023 yang sempat mengalami kontraksi hingga minus 3,49 persen.

​Kepala BPS Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa stabilitas ekonomi daerah terjaga berkat performa sektor pertanian yang mencatatkan laju pertumbuhan tinggi sebesar 11,38 persen, yang didorong oleh lonjakan produksi padi dan jagung secara signifikan.

​Untuk mengunci stabilitas harga di tingkat produsen, Pemkab Bojonegoro meluncurkan badan usaha plat merah baru, yakni Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bojonegoro Pangan Mandiri.

BUMD ini bertugas mengawal ekosistem hilirisasi pangan dan menjaga Nilai Tukar Petani (NTP).

​Direktur Utama Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, M. Choirul Huda, mengungkapkan pihaknya telah menyusun skema kolaborasi multipihak yang melibatkan Asosiasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), BUMDes, UMKM, Gapoktan, serta Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) Bojonegoro.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) massal dijadwalkan pada 28 Juni 2026 mendatang.

​“Bersamaan dengan MoU tersebut, kami akan resmi meluncurkan merek beras andalan lokal Bojonegoro dengan nama Rojo Nogo,” tegas Choirul Huda, Minggu (21/06/2026).

​Dalam cetak biru kerja sama ini, Asosiasi KDMP dan Gapoktan akan bergerak di lapangan untuk menyerap gabah petani dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah, sesuai standar kualitas yang disepakati. Gabah tersebut kemudian disalurkan ke Perpadi Bojonegoro untuk diolah secara modern.

​“Beras hasil produksi kolaboratif ini nantinya akan dipasarkan untuk menembus pasar nasional sekaligus mengamankan cadangan pemenuhan pangan di tingkat regional. Kami optimis hadirnya Perumda mampu memutus persoalan klasik anjloknya harga saat panen raya demi kesejahteraan petani Bojonegoro,” pungkas Choirul.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *