BOJONEGORO||TRANSISINEWS — Kabupaten Bojonegoro menyimpan kekayaan geologi unik berupa Geosite (G-05) Kedung Lantung. Destinasi warisan alam (geoheritage) ini menyuguhkan fenomena alam berupa rembesan minyak bumi (cair) alami yang muncul langsung di aliran Sungai Borik, Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras.
Berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, lokasi geosite ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat kurang lebih 1,5 jam melintasi lanskap jalan berkelok. Rasa lelah perjalanan terbayar saat menyusuri jalur pejalan kaki menuju area sungai yang masih asri, lengkap dengan papan informasi sejarah serta petunjuk keselamatan di area masuk.
Secara geologis, Geosite Kedung Lantung berada di Zona Kendeng. Proses pembentukannya berawal dari pengendapan laut dalam Zona Kendeng yang berlangsung bersamaan dengan pengendapan laut dangkal Zona Rembang. Aktivitas tektonik masa lampau membentuk jaringan rekahan (fractures) pada batuan, yang kemudian menjadi saluran alami bagi minyak bumi untuk meresap naik ke permukaan (oil seepage).
Minyak bumi dari reservoir di bawah tanah terdorong ke atas secara vertikal akibat perbedaan massa jenis (densitas minyak yang lebih ringan daripada air). Fenomena ini dapat disaksikan secara kasatmata di permukaan aliran air Kedung Lantung. Pantulan cahaya matahari pada lapisan minyak di atas air menciptakan efek interferensi cahaya berupa spektrum warna-warni layaknya pelangi.
Keberadaan rembesan minyak di Kedung Lantung memiliki kaitan erat dengan aspek kultur masyarakat lokal. Secara turun-temurun, warga setempat memanfaatkan minyak alami ini untuk bahan bakar penerangan tradisional yang mereka sebut sebagai Lintung.
Uniknya, keberadaan fenomena rembesan minyak cair ini kerap dianggap memiliki ‘kembaran’ dengan Geosite Kayangan Api yang berjarak sekitar 35 kilometer. Jika Geosite Kedung Lantung merupakan rembesan minyak bumi (cair), maka Kayangan Api hadir sebagai fenomena rembesan gas bumi yang menyala abadi di atas permukaan tanah.
Keunikan geosite ini makin lengkap dengan potensi komoditas pertanian lokal. Anggota Pokdarwis Kedung Lantung, Nabila, menjelaskan bahwa struktur tanah dan iklim Desa Drenges sangat mendukung budi daya jagung dan singkong, yang kini diolah menjadi produk UMKM khas daerah.
”Karena hasil pertanian di sini mayoritas jagung dan singkong, jadi olahan Marning dan Balung Kuwuk menjadi produk asli dari Desa Drenges,” tutur Nabila.
Rangkaian geosite yang membentuk narasi besar sistem petroleum Bojonegoro ini menjadi aset penting yang perlu terus dirawat dan dikembangkan melalui tata kelola kepariwisataan berkelanjutan, agar keunggulan sejarah dan budaya daerah tetap lestari bagi generasi mendatang.(sy)












