Program bentukan Pemkab Bojonegoro yang memberdayakan keluarga penerima manfaat melalui bantuan ayam petelur ini dinilai Suprapto sangat sinkron jika dikerjasamakan dengan ratusan toko SRC.
Apalagi dalam sesi dialog terungkap bahwa harga telur hasil Program Gayatri jauh lebih kompetitif, yakni berada di kisaran Rp24.000 per kilogram, dibandingkan pasokan luar daerah (seperti Kediri) yang mencapai Rp26.000 per kilogram.
”Ini adalah peluang emas yang saling menguntungkan (win-win solution). Ritel SRC mendapatkan pasokan telur segar dengan harga yang lebih murah dan kompetitif, sementara peternak lokal kita dari Program Gayatri mendapatkan kepastian pasar yang jelas. Ke depan, sinergi ini harus dikonkretkan,” tegas Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro tersebut.
Suprapto juga sependapat dengan langkah Pemkab Bojonegoro yang mendorong keterlibatan aktif Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seperti Dinas Perdagangan serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
Menurutnya, legislatif akan terus mengawasi dan memastikan regulasi daerah berpihak pada kemudahan berusaha sekaligus memproteksi hak-hak pelaku usaha mikro.
”Komisi C akan terus mendorong agar OPD terkait memberikan pembinaan yang intensif. Kita ingin perputaran uang dan manfaat ekonomi dari sektor ritel ini benar-benar berputar di Bojonegoro dan dirasakan langsung oleh masyarakat kita sendiri,” pungkas Suprapto.
Sementara itu, dalam sambutan pembuka sebelumnya, Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan, Romulus Sutanto, menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh pihak, termasuk jajaran pemerintahan dan legislatif di Bojonegoro.
Sejak berdiri pada tahun 2008, SRC kini telah berkembang pesat dengan memiliki sekitar 250 ribu toko anggota yang tersebar di 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.(red)













