Awi melanjutkan, ada beberapa strategi hulu ke hilir yang bisa dicetuskan oleh para peserta KKN-T Unigoro 2026 selama mengabdi di hilir hutan selatan.
Langkah awal adalah dengan ikut mendorong lahirnya kebijakan lokal terkait perlindungan dan pelestarian kawasan hutan di tingkat desa.
Sedangkan dari sektor intervensi kerentanan ekonomi, mahasiswa didorong untuk merancang program pemberdayaan yang berbasis ekologis namun memiliki nilai jual (economic value) tinggi dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada.
“Beberapa program yang sangat adaptif untuk dikembangkan di wilayah hutan selatan antara lain sistem agroforestri (perpaduan tanaman kehutanan dan pertanian), konsep eco-edu tourism (wisata edukasi lingkungan), hingga tren wisata kesehatan forest bathing (terapi alam/menyatu dengan hutan). Potensi-potensi ini yang harus digali bersama masyarakat desa hutan,” tandasnya.
Di akhir sesi pembekalan, Bojonegoro Institute mengingatkan mahasiswa KKN Unigoro bahwa kunci keberhasilan program kerja di lapangan terletak pada kolaborasi.
Mahasiswa diwajibkan mampu membangun kemitraan (partnership) dan jejaring yang kuat sejak awal menerjunkan diri ke lokasi pengabdian.
Melalui pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping) yang tepat, draf program peningkatan kesejahteraan masyarakat desa hutan dipastikan dapat berjalan lebih terukur dan berkelanjutan.(red/*)













