BOJONEGORO||TRANSISINEWS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus bergerak cepat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkab resmi membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) Tahun 2026 yang dipusatkan di Balai Desa Sidomukti, Kecamatan Kepohbaru, Senin (22/6/2026).
Program strategis ini dirancang untuk membangun kemandirian masyarakat di tingkat desa agar mampu bergerak cepat dan mandiri saat situasi darurat terjadi, bahkan sebelum bantuan dari pihak luar tiba.
Pembentukan Destana ini tidak hanya berfokus pada penanganan saat bencana melanda, melainkan lebih menekankan pada aspek pencegahan dan mitigasi sejak dini.
Warga didorong aktif untuk mengenali potensi ancaman di wilayahnya, melakukan pemetaan risiko, hingga menyusun langkah penanganan yang tepat.
Kegiatan ini diikuti oleh aparatur desa, relawan, serta perwakilan masyarakat dari sejumlah wilayah di Kecamatan Kepohbaru, meliputi Desa Sidomukti, Desa Nglumber, Krangkong, Kepoh, Brangkal, dan Simorejo.
Untuk memberikan pembekalan yang matang, BPBD Provinsi Jawa Timur turut dihadirkan sebagai narasumber.
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menegaskan bahwa kesuksesan pengurangan risiko bencana sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat.
Sebab, wargalah yang paling memahami kondisi lingkungan dan potensi ancaman di sekitar mereka.
”Kami berharap seluruh peserta Destana mampu tanggap terhadap berbagai potensi bencana. Peran masyarakat sangat penting karena merekalah yang berada di garis terdepan saat menghadapi kondisi darurat,” ujar Nurul Azizah.
Ia menjelaskan bahwa BPBD bertindak sebagai koordinator untuk menyinergikan berbagai pihak.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan warga harus terus diperkuat agar penanggulangan bencana memberikan dampak yang nyata.
Dalam kesempatan tersebut, Nurul Azizah juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan kekeringan yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Kepohbaru.
Ia meminta agar program Destana ini melahirkan langkah mitigasi konkret yang mampu menjamin ketersediaan air bersih bagi warga.
”Kekeringan harus menjadi perhatian bersama. Harapannya, berbagai langkah yang direncanakan dapat benar-benar dieksekusi sehingga persoalan kebutuhan air masyarakat bisa teratasi,” tegasnya.
Melalui pembentukan Destana ini, Pemkab Bojonegoro optimistis kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana akan semakin meningkat.
Selain menekan indeks risiko bencana daerah, program berbasis partisipasi warga ini diharapkan mampu menciptakan rasa aman dan ketahanan lingkungan yang berkelanjutan.(red)












