Kolonel Untoro menggarisbawahi bahwa penentuan lokus TMMD kali ini didasarkan pada skala prioritas untuk menyasar wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Kehadiran TNI di tengah masyarakat diharapkan mampu memotong disparitas pembangunan infrastruktur di tingkat pedesaan.
”Jika akses jalan dan jembatan kita bangun, rumah warga kita bedah menjadi layak, serta saluran irigasi kita benahi, maka otomatis roda perekonomian akan berputar lebih cepat. Ini investasi jangka panjang untuk kemajuan desa,” tegas Danrem di hadapan awak media.
Sementara itu, Dansatgas TMMD ke-129 yang juga Dandim 0802/Ponorogo, Letkol Arh Farauk Saputra, merinci bahwa operasi bakti ini melibatkan personel gabungan dari berbagai matra militer di sekitar wilayah Ponorogo, di antaranya prajurit Yonif TP Pacitan, Lanud Iswahjudi, serta Lanal Pacitan.
Letkol Farauk mengakui kondisi geografis Desa Bulu Lor yang berbukit dan menantang menjadi dinamika tersendiri dalam mobilisasi material. Mengantisipasi hal tersebut, Satgas telah mengambil langkah taktis dengan menggelar operasi Pra-TMMD sejak satu bulan lalu.
“Kami memang mencari daerah yang benar-benar membutuhkan intervensi pembangunan. Karena beberapa titik sasaran medannya cukup sulit, makanya Pra-TMMD sudah kita kebut sejak sebulan lalu agar seluruh target fisik maupun non-fisik selesai 100 persen sesuai jadwal,” pungkasnya.(red)













