BANGKALAN||TRANSISINEWS – Suasana khidmat bulan Ramadhan di Desa Lomaer, Kecamatan Blega, Bangkalan, mendadak tegang. Tradisi kesenian Daul yang seharusnya menjadi hiburan rakyat, justru memicu perselisihan antar kelompok yang nyaris berujung bentrok fisik.
Situasi yang tidak kondusif ini memaksa aparat kepolisian melakukan pembubaran paksa demi menghindari konflik yang lebih luas.
Insiden bermula pada Kamis malam (19/3/2026), saat dua kelompok Daul terlibat perselisihan sengit.
Kabar bahwa pertikaian akan berlanjut pada malam berikutnya, Jumat (20/3/2026), memicu gelombang kekhawatiran besar di tengah masyarakat.
Husain, salah satu warga setempat, meluapkan kekesalannya terhadap pergeseran nilai tradisi tersebut. Menurutnya, kegiatan Daul saat ini telah keluar jalur dan justru mengganggu ketertiban umum.
“Ini bukan lagi soal seni Daul. Yang ada hanya suara petasan memekakkan telinga, knalpot brong yang bising, hingga kemacetan lalu lintas. Bahkan, Daul sering dijadikan kedok oknum tertentu untuk aksi balap liar atau trek-trekan,” tegas Husain dengan nada geram.
Keresahan serupa disampaikan oleh Mistu, petugas keamanan Pasar Lomaer.
Ia menyoroti perilaku suporter dan peserta yang sulit ditertibkan.
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah tidak adanya koordinator atau penanggung jawab yang jelas dari kelompok-kelompok tersebut.
“Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, siapa yang mau bertanggung jawab? Selain mengganggu arus lalu lintas, kami khawatir barang-barang milik pedagang pasar dan penduduk sekitar menjadi sasaran jika pecah bentrokan,” ujar Mistu.
Puncak ketegangan terjadi saat massa dalam jumlah besar mulai berkumpul di lokasi pada dini hari.
Merespons potensi konflik tersebut, personel Polsek Blega Polres Bangkalan bergerak sigap ke lokasi sekitar pukul 02.40 WIB.
Petugas berhasil membubarkan kerumunan dan mengarahkan warga untuk segera kembali ke rumah masing-masing.
Langkah tegas kepolisian ini mendapat apresiasi dari warga, mengingat ini merupakan pertama kalinya aparat turun langsung secara masif untuk menertibkan kegiatan Daul di wilayah tersebut.
Mistu berharap para tokoh masyarakat dan pemuda setempat dapat duduk bersama untuk mengevaluasi tradisi ini.
“Tahun depan, kesenian Daul harus dikoordinir dengan baik agar lebih sportif dan tertata, bukan malah menjadi sumber kegaduhan dan konflik,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, petugas Polsek Blega belum dapat memberikan keterangan resmi lebih lanjut karena masih fokus melakukan patroli kewilayahan guna memastikan situasi tetap kondusif.(tss)













