Menurut Ninik, pencegahan harus dimulai dari kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kesehatan mental remaja. Ia mendorong agar sekolah-sekolah menyediakan layanan konseling yang aktif dan terbuka, serta mendorong budaya komunikasi yang sehat antara anak dan orang tua di rumah.
“Remaja adalah generasi penerus bangsa. Jangan biarkan mereka tumbuh tanpa pegangan dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan ini,” tegasnya.
Fenomena meningkatnya tekanan psikologis akibat dunia digital menjadi perhatian banyak pihak. Ninik berharap agar kebijakan pendidikan ke depan dapat lebih mengakomodasi aspek kesehatan mental sebagai prioritas utama.
Salah satu narasumber Heni Dwi Windarwati pakar Kesehatan jiwa dari Universitas Brawijaya menawarkan cara merawat kesehatan mental dengan Digital Detox secara rutin, yang mengajarkan pentingnya membatasi penggunaan perangkat digital demi menjaga kesehatan mental. Rehat sejenak dari media sosial dapat menurunkan tingkat stres dan memperbaiki suasana hati. Strategi praktis seperti tidak menggunakan HP sebelum tidur, membuat zona tanpa ponsel di rumah, dan hari tanpa media sosial pun diberikan sebagai solusi nyata.
Cara lain untuk merawat kesehatan mental adalah dengan latihan mindfulness (kesadaran penuh), yang mengajak peserta untuk hadir secara sadar di saat ini tanpa menghakimi pikiran yang muncul. “Praktik sederhana seperti duduk tenang dan mengamati pernapasan sendiri efektif untuk mengurangi stres dan meningkatkan fokus belajar, terutama pada remaja,” jelasnya.
Peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam mendampingi generasi muda, juga disebut sangat efektif untuk menghadapi tantangan digital. Sehingga mengajak berpikir kritis tentang media sosial sangat diperlukan. Agar anak mampu memahami bahwa apa yang ditampilkan di dunia maya tidak selalu mencerminkan kenyataan.(red)













