BOJONEGORO||TRANSISINEWS– Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dalam menggali dan mengangkat identitas budaya lokal terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara nyata.
Melalui penerapan motif batik Obor Sewu-batik khas masyarakat adat Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo-sebagai bagian dari Pakaian Dinas Harian (PDH) Aparatur Sipil Negara (ASN), Pemkab Bojonegoro berhasil memadukan pelestarian budaya daerah dengan pemberdayaan ekonomi warga.
Kebijakan tersebut secara resmi tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Bojonegoro Nomor 065/378/412.032/2025 tentang Penggunaan PDH Adat Samin di Lingkungan Pemkab Bojonegoro.
Langkah ini mengimplementasikan Misi Kelima Pemkab Bojonegoro yakni “Memajukan Kebudayaan dan Kebanggaan Daerah” sekaligus mendukung Sembilan Program Prioritas Bupati Bojonegoro periode 2025–2030 di bidang pemajuan seni budaya.
Bambang Sutrisno, penerus sesepuh Sedulur Sikep Samin, menjelaskan bahwa nama Obor Sewu berakar dari sejarah perjuangan Samin Surosentiko saat mengumpulkan para pengikutnya dengan penerangan obor.
Kata sewu (seribu) menggambarkan jumlah yang banyak, dengan cita-cita agar pitutur (ajaran) luhur Mbah Samin menjadi suluh penerang bagi generasi penerus.
”Obor melambangkan pencahayaan, sedangkan sewu berarti jumlah yang amat banyak. Harapan besarnya adalah agar pesan-pesan bijak Mbah Samin terus menjadi penerang jalan bagi generasi penerus,” tutur Bambang saat memberikan keterangan. Selasa (29/09/2026).
Nilai-nilai luhur yang ditanamkan melalui filosofi tersebut mencakup kejujuran, kesabaran, keikhlasan (nrimo), serta ketangguhan hidup (trokal).
Istilah trokal menjadi cerminan semangat pantang menyerah dan daya juang tinggi yang terus dipertahankan dalam tutur kata lokal masyarakat Samin.
Keluhuran budaya dan motif Obor Sewu ini juga menjadi daya tarik utama dalam proses penilaian UNESCO Global Geopark (UGGp) Bojonegoro.
Asesor UNESCO dari Jerman dan China sempat menghabiskan waktu lebih dari dua jam di Kampung Samin Margomulyo untuk melihat langsung proses membatik, menyaksikan seni karawitan, serta mempelajari nilai-nilai sejarah lokal secara langsung.
Motif batik Obor Sewu memiliki kedudukan istimewa sebagai hak cipta budaya masyarakat Samin Margomulyo yang telah resmi terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan nomor pencatatan 000160986.
Aturan legal ini menetapkan bahwa proses pembuatan batik wajib dikerjakan oleh warga Samin di Margomulyo demi menjaga keaslian, karakter, dan kesucian makna filosofisnya.
Perkenalan busana adat Samin beserta motif Obor Sewu kini tidak hanya terbatas pada jajaran aparatur pemerintah, melainkan telah merambah ke sektor pendidikan tinggi.
Salah satu perguruan tinggi di Bojonegoro turut membudayakan penggunaan kelengkapan busana ini saat penerimaan mahasiswa baru, di mana mahasiswa putra mengenakan udheng dan mahasiswa putri mengenakan selendang Obor Sewu.
Penerapan aturan seragam dinas ASN memberikan dampak ekonomi yang sangat terasa.
Sebelum kebijakan berlaku, batik Obor Sewu diproduksi secara terbatas dan tidak dijual bebas di pasar umum, melainkan hanya bisa diperoleh dengan berkunjung langsung ke Dusun Jepang, Margomulyo.
Kini, peningkatan permintaan menjadikan kerajinan ini sebagai sumber penghasilan baru yang menjanjikan.
Produk khas ini dilepas ke pasaran dengan harga yang terjangkau, yakni kain batik seharga Rp160 ribu, udheng Rp70 ribu, dan selendang Rp40 ribu.
”Manfaatnya terasa amat besar. Sejak dijadikan pakaian kerja aparatur daerah, antusiasme publik untuk mempelajari filosofi Obor Sewu, rekam sejarah, serta adat istiadat warga Samin melonjak tajam,” jelas Bambang.
Lonjakan pemesanan ini berdampak langsung pada pembukaan lapangan kerja. Pada masa puncak permintaan, lebih dari 50 warga terlibat aktif dalam aktivitas membatik dan menjahit.
Saat ini, skema produksi terus berjalan secara stabil dengan melibatkan sekitar 30 hingga 40 pekerja.
Sinergi produksi ini juga memperluas dampak ekonomi hingga ke wilayah tetangga, seperti pelibatan tenaga penjahit di Kecamatan Ngraho.
Peningkatan pesanan juga memicu minat warga Samin yang sebelumnya belum mahir membatik untuk ikut mempelajari keterampilan ini.
Hingga kini, aliran pesanan rutin 1-2 potong per hari terus bergulir, menjaga keberlanjutan tradisi membatik sekaligus menopang kesejahteraan ekonomi warga.(sy/*)













