Ads
NasionalOpiniRagam

Kecongkakan Makan Siang Gratis: Gelombang Amuk Mahasiswa Gedor Arogansi Meja Sang Utusan Khusus

syailendraachmad51
×

Kecongkakan Makan Siang Gratis: Gelombang Amuk Mahasiswa Gedor Arogansi Meja Sang Utusan Khusus

Sebarkan artikel ini
File 00000000ca9871fabbdeb289aeff9076

JAKARTA||TRANSISINEWS – Lewat tantangan terbuka kepada para pengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG), adik kandung Presiden sekaligus Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo, dinilai bagai melempar puntung rokok menyala ke atas jerami kering.

​Pernyataan ofensif tersebut seketika memicu gelombang perlawanan mahasiswa di berbagai kota besar sekaligus memecah kesolidan organisasi binaannya sendiri, Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS).

Pintu-pintu ruang kuliah mendadak riuh; aliansi mahasiswa dan elemen rakyat kembali tumpah merapatkan barisan ke aspal jalanan mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Medan.

​Aksi demonstrasi ini didasari atas desakan terhadap arogansi kekuasaan yang dinilai abai pada jeritan kemiskinan sistemik.

Pemantiknya bukan sekadar urusan menu di atas piring, melainkan ketegasan sebaris kalimat bernada tinggi dari Hashim yang menyatakan siap mendatangi kampus-kampus untuk menghadapi langsung para pengkritik.

Langkah konfrontatif ini dibaca sebagai bentuk resistensi kekuasaan di tengah sorotan publik terhadap anggaran jumbo program MBG yang mencapai Rp335 triliun—nominal fantastis yang dinilai sangat rentan menjadi ladang korupsi baru.

​Sikap tanpa kompromi Hashim nyatanya tidak hanya memanen badai kritik dari luar pagar.

Di dalam rumah yang ia bangun sendiri, FORMAS, suasana mendadak gerah dan oleng.

Organisasi payung yang awalnya dideklarasikan di Gedung Dewan Pers untuk mengawal program pemerintah ini dilaporkan mulai pecah kongsi.

​Kritik tajam datang dari internal koalisi. KH. Maksum Hidayatullah, salah satu tokoh Koalisi Formas, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya atas dinamika yang berkembang.

​”Saya yakin, Pak Hashim ini keceplosan. Tetapi mungkin begitulah karakternya. Merasa paling benar sendiri, paling berkuasa sendiri untuk mengurus negeri ini,” ujar kiai asal Cirebon tersebut, seraya menyayangkan wadah binaan Formas yang kini justru dibiarkan mati suri.

​Suara bernada peringatan keras juga ditiupkan oleh fungsionaris Formas lainnya, Ferry Sibarani.

Ia meminta Hashim segera melakukan introspeksi mendalam demi menjaga stabilitas politik nasional agar tidak memicu turbulensi yang lebih besar.

​”Ingat, banyak warning untuk bulan Agustus. Kita berharap Pak Hashim tidak menjadi pemicu yang membangkitkan kenangan reformasi 1998,” cetus Ferry ketus.

​Ketegangan di internal organisasi mencapai puncaknya setelah mantan pengurus Formas yang kini menjabat sebagai Wakil Direktur CAJ PWI Pusat, Yono Hartono, ikut meradang dan membongkar keputusannya keluar dari kepengurusan di masa lalu.

​”Di masa lalu, saya orang pertama yang keluar dari pengurus Formas karena saya tidak percaya dengan sosok Hashim. Hashim itu tidak akan ada empatinya, dia terlahir sudah kaya, dia tidak mengerti cara berpikirnya orang kecil,” ungkap Yono dengan nada tinggi.

​Lebih lanjut, Yono memberikan anjuran taktis bagi rekan-rekan di internal yang masih berkomitmen menjaga marwah program pemerintah dan keutuhan NKRI agar segera mengambil langkah tegas secara politik.

​”Saya anjurkan untuk rekan-rekan yang masih ingin Formas tetap konsisten ikut serta menjaga program pemerintah dan NKRI, gabung saja ke Safri dan ikut pendidikan disiplin militer, atau bisa juga ikut ke Dasco. Saya ini PWI, saya pendukung Dasco,” tegas Yono Hartono.

​Saat ini, peta internal FORMAS dikabarkan telah terbelah menjadi dua faksi yang saling berhadapan: Faksi Loyal Buta yang tetap bersikeras mengawal program MBG tanpa syarat, dan Faksi Moral yang mendesak pemerintah untuk segera kembali turun mendengarkan jeritan riil masyarakat bawah.

​Riuh unjuk rasa di aspal jalanan dan saling kunci antar-faksi di dalam Formas akhirnya menelanjangi fakta baru bahwa tata kelola anggaran jumbo Rp335 triliun rawan memicu turbulensi politik.

Alih-alih menjadi sabuk pengaman sosial, sesumbar kata dari sang utusan khusus justru mengoyak barisan pertahanan dari dalam dan membuka kembali kotak pandora rekam jejak lamanya ke panggung publik.(red/*)