Afrian menambahkan, hingga hari ke-16 Ramadan, masyarakat Bojonegoro dinilai mampu menjaga sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan selama menjalankan ibadah puasa.
Kondisi tersebut, kata dia, tidak lepas dari peran para dai dan pendeta Kamtibmas yang secara aktif memberikan pesan-pesan menyejukkan kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres juga memohon doa dan dukungan dari para tokoh agama menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026 yang akan dimulai pada 13 Maret mendatang.
Operasi ini bertujuan untuk mengamankan arus mudik dan perayaan Hari Raya Idulfitri agar berjalan aman dan lancar.
“Kami memohon doa agar seluruh personel yang bertugas diberikan kesehatan, keselamatan, serta kelancaran dalam menjalankan Operasi Ketupat Semeru 2026,” ujar Kapolres dihadapan para dai dan pendeta Kamtibmas.
Sementara itu, Ketua Dai Kamtibmas Bojonegoro KH. Alamul Huda Masyhur dalam tausiyah singkatnya menyampaikan bahwa terciptanya keamanan dan keadilan dalam suatu wilayah memerlukan sinergi antara ulama dan umara.
Menurutnya, pemerintah dan tokoh agama harus berjalan seiring untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Ia juga mengibaratkan persatuan sebagai filosofi sapu lidi. Jika sapu lidi diikat menjadi satu, maka akan kuat dan mampu membersihkan halaman.
Namun jika berdiri sendiri, sapu lidi tidak akan memiliki kekuatan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, ulama, maupun tokoh agama lainnya, untuk terus bersatu demi mewujudkan Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan.
Kegiatan silaturahmi Ramadan tersebut ditutup dengan penyerahan tali asih dari Kapolres Bojonegoro kepada para dai dan pendeta Kamtibmas sebagai bentuk apresiasi atas peran mereka dalam menjaga kerukunan dan kondusivitas wilayah. (*)













