Sosok Putri Wahyu Lestari, seorang gadis tunarungu berbakat binaan Sanggar DOT ART Ngraho, sukses mencuri perhatian ribuan pasang mata.
Mengenakan busana batik mahakarya desainer lokal Agus Urip Wijianto, Putri melangkah anggun, tegas, dan penuh rasa percaya diri di atas altar catwalk.
Aksi teatrikal busananya seketika memantik gemuruh tepuk tangan dan sorak kagum dari jajaran penonton serta undangan VIP yang hadir.
Merespons capaian tersebut, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, Agus Susetyo Hardiyanto, menyatakan rasa bangganya atas keberhasilan pembinaan inklusif di ajang BWBF 2026.
Kehadiran stan mandiri dan moncernya penampilan di panggung busana adalah bukti sahih bahwa sekat fisik bukanlah penghalang untuk melahirkan produk bernilai ekonomi tinggi.
“Kami sangat bangga atas partisipasi aktif rekan-rekan disabilitas dalam Wastra Batik tahun ini. Kehadiran mereka membuktikan secara gamblang bahwa keterbatasan fisik bukan pembendung untuk melahirkan karya yang memiliki nilai estetika tinggi maupun nilai ekonomi makro. Dinsos berkomitmen penuh untuk terus mengawal, memfasilitasi, dan membuka ruang publik seluas-luasnya agar mereka semakin berdaya, mandiri, dan mendapat pengakuan hak sosial yang setara,” tegas Agus Susetyo.
Senada dengan Kadinsos, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Bojonegoro, Nafiatin Ni’mah, menekankan bahwa pelibatan aktif ini merupakan implementasi riil dari pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas yang dilindungi hukum.
“Kegiatan ini sengaja kami dorong agar teman-teman disabilitas memiliki ruang, panggung, dan kesempatan yang sama persis dengan masyarakat umum. Perlu digarisbawahi, mereka tidak membutuhkan belas kasihan (charity), yang mereka butuhkan adalah ruang kesempatan untuk menunjukkan kapasitas, kemampuan, dan potensi riil mereka kepada dunia,” tegas Nafiatin normatif.
Lewat integrasi dukungan yang humanis ini, BWBF Bojonegoro 2026 sukses menaikkan kelas maknanya.
Festival ini tidak lagi sekadar menjadi pasar malam batik, melainkan sebuah panggung kemanusiaan yang menegaskan bahwa inklusivitas dan kesetaraan adalah fondasi utama dalam membangun struktur masyarakat Bojonegoro yang ramah, berkeadilan, dan merangkul semua golongan tanpa tapi. (red*)













