“Ajaran Samin ini adalah sifat dasar manusia. Kita semua sudah dibekali watak itu sejak lahir, tinggal bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Karena itu, baginya, menjadi Samin bukanlah sesuatu yang istimewa. Semua manusia lahir setara, dengan tujuan yang sama yakni mencari ketenteraman hidup.
Dan dalam upaya pelestarian, Bambang Sutrisno juga mengapresiasi peran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang dinilainya sangat luar biasa.
Kebijakan penggunaan udeng dan pakaian adat Samin bermotif Obor Sewu oleh ASN dinilai membawa dampak besar.
Dari yang semula tidak mengenal Samin, kini banyak orang mulai bertanya, ingin tahu, dan akhirnya memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Motif Obor Sewu sendiri, menurutnya, bukan sekadar ornamen. Sejak 2019, motif ini disepakati sebagai identitas yang tidak diperjualbelikan secara bebas, agar siapa pun yang mengenakannya memiliki kebanggaan dan cerita bagi yang pernah datang dan mengenal Samin.
Melalui kebijakan pemerintah daerah, makna itu kini menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Di penghujung 2025, Bambang Sutrisno menyebut dirinya hanyalah simbol. Penghargaan AKI 2025 dari Menteri Kebudayaan, menurutnya, adalah hasil peran banyak pihak yakni pemerintah, para pemerhati budaya, dan leluhur yang mewariskan ajaran tanpa pamrih.
“Ajaran Samin tidak mengajarkan meminta. Ketika diberi dengan ikhlas, baru kami terima. Itu pesan leluhur,” katanya.
Kepada generasi muda Bojonegoro dan Indonesia, ia menyampaikan pesan sederhana namun mendalam.
Jika ada nilai Ajaran Samin yang dianggap kurang baik, silakan disampaikan. Namun jika dinilai baik, mari dijalankan bersama.
Sebab Samin berarti sami-sami atau semua sama.
Dan pada akhirnya, tujuan dari seluruh ajaran itu hanya satu yakni mencari ketenteraman hidup.(red)













