BOJONEGORO||TRANSISINEWS – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang menunjukkan sektor pertanian berhasil menggeser dominasi industri pertambangan dan penggalian sebagai penopang utama sirkulasi perekonomian Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan I 2026.
Sektor riil ini tampil sebagai penyelamat di tengah tren melemahnya lifting migas yang selama ini mendominasi struktur ekonomi daerah.
Melirik data makro yang ada, performa ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I 2026 tercatat tumbuh 0,02 persen secara tahunan (year on year).
Namun, jika ditinjau secara triwulanan (quarter to quarter), pertumbuhan ekonomi justru melesat di angka 2,52 persen dibanding Triwulan IV 2025 dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menembus Rp28,44 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB).
Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa laju akselerasi ekonomi daerah saat ini sebenarnya masih tertahan akibat adanya kontraksi mendalam pada sektor pertambangan yang merosot hingga 8,78 persen secara tahunan.
“Meski mencatat pertumbuhan positif, laju ekonomi Bojonegoro tertahan oleh kontraksi pada sektor pertambangan dan penggalian. Padahal sektor ini masih menjadi kontributor terbesar terhadap struktur perekonomian daerah dengan kontribusi mencapai 42,03 persen,” jelasnya.
Berbanding terbalik dengan kondisi migas, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru mencatatkan performa impresif dengan tumbuh 11,38 persen secara tahunan dan melonjak tajam hingga 65,94 persen secara triwulanan.
“Tingginya pertumbuhan sektor pertanian secara triwulanan dipengaruhi faktor musiman. Triwulan pertama merupakan masa dimulainya panen padi di berbagai wilayah sehingga mendorong peningkatan aktivitas pertanian secara signifikan,” tambah Syawaluddin.
Merespons capaian tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menilai pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi masyarakat.
Berbagai intervensi program pembangunan daerah, penguatan sektor tani, dan pemberdayaan UMKM dinilai mulai menunjukkan dampak riil di lapangan.
“Kalau melihat perjalanan beberapa tahun terakhir, Bojonegoro pernah mengalami kontraksi ekonomi yang cukup dalam pada beberapa triwulan. Namun pada Triwulan I 2026 ekonomi Bojonegoro mampu tumbuh 2,52 persen secara q-to-q. Ini menunjukkan ekonomi masyarakat tetap bergerak dan berbagai program pembangunan daerah mulai memberikan dampak positif,” papar Nurul Azizah.
Wabup Nurul juga menambahkan bahwa dari segi pemeringkatan ekonomi regional, posisi Bojonegoro di tingkat provinsi masih tergolong sangat kokoh.
“Dan bila dibandingkan kabupaten lain, Bojonegoro masih bagus, se-Jatim nomor 9 dalam memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi nonmigas,” imbuhnya, merujuk pada porsi kontribusi Bojonegoro yang menyumbang 3,20 persen terhadap total perekonomian Jawa Timur.
Meskipun menunjukkan tren positif di tingkat regional, kinerja pertumbuhan tahunan Bojonegoro yang berada di angka 0,02 persen terpantau masih tertinggal jika dikomparasikan dengan daerah lain di kawasan Gerbangkertosusila Plus (G+), seperti Gresik yang tumbuh 7,28 persen dan Tuban di angka 6,88 persen.
Ditinjau dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyokong terbesar dengan andil 46,22 persen, disusul konsumsi pemerintah yang tumbuh 20,45 persen berkat dorongan belanja pegawai serta stimulus program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Fenomena fluktuasi ini menjadi alarm penting bagi Pemkab Bojonegoro untuk terus mempercepat diversifikasi ekonomi ke sektor nonmigas agar struktur fiskal daerah tidak rentan goyah.(red)












