Laporan resmi yang masuk ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Lamongan menyebutkan total kekurangan pembayaran kepada para mandor dan penyedia logistik lokal mencapai Rp570 juta.
Kemegahan stadion yang sempat dipuji sebagai simbol kebangkitan olahraga Lamongan kini tampak seperti monumen pengkhianatan terhadap rakyat kecil.
Apa artinya bangunan megah jika dibangun di atas penderitaan pedagang kecil?
Tak hanya Rofiah, para mandor proyek pun mengaku mengalami nasib serupa: hak mereka digantung tanpa kepastian.
Sementara plakat peresmian stadion terus berdiri angkuh, hati para korban justru terpuruk dalam senyap.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak PT Wika terkait tudingan keterlambatan pembayaran ini. Pemerintah daerah pun masih bersikap pasif, seolah memilih diam daripada berpihak pada kebenaran.
Padahal, jika suara rakyat kecil terus diabaikan, stadion yang semula jadi kebanggaan bisa berubah menjadi simbol kebusukan birokrasi dan abainya nurani korporasi. Untuk keadilan yang lebih terang, biarkan suara kecil tidak lagi tenggelam oleh kemewahan palsu.(Aj/*)













