“Kami ingin lebih proaktif melalui strategi jemput bola, termasuk mempererat koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Gapoktan. Ini adalah salah satu cara kami menjangkau petani yang belum tersentuh,” jelas Ferdian.
Pada 2024, serapan gabah Bulog Bojonegoro hanya mencapai 16.000-17.000 ton dari target 27.000 ton. Meski angka ini mencakup tiga kabupaten, hasil tersebut dianggap masih jauh dari optimal.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa kami perlu evaluasi menyeluruh, terutama dalam membangun kepercayaan petani agar bergabung dengan Bulog,” tambahnya.
Bulog menegaskan, kerja sama dengan mereka menawarkan manfaat langsung bagi petani. Selain mendapatkan harga yang stabil, petani juga terlindungi dari permainan harga tengkulak yang sering kali merugikan.
“Dengan Bulog, petani memiliki jaminan harga yang layak. Kami berharap, pada 2025, lebih banyak petani yang bergabung demi kesejahteraan bersama,” tutup Ferdian.
Melalui langkah-langkah strategis ini, Bulog Bojonegoro optimis bisa meningkatkan serapan gabah dan memberikan dampak positif bagi petani di wilayah kerjanya.(red/rin)













