“Beliau bukan hanya memahami konsep kebijakan, tetapi pernah berada langsung di lapangan sebagai perawat. Fondasi itulah yang membuat kepeduliannya terhadap isu kesehatan di Jawa Timur sangat kuat dan nyata,” ujar Sasmito.
Dedikasi Sri Wahyuni di parlemen tercermin dari konsistensinya dalam mendorong pemerataan akses layanan kesehatan hingga ke pelosok desa, peningkatan kualitas pelayanan di RSUD dan Puskesmas, serta penguatan anggaran kesehatan yang berpihak pada rakyat kecil dan kesejahteraan tenaga medis.
Saat menerima penghargaan yang diserahkan oleh Penasihat PWI Bojonegoro, Mohammad Abdul Qohhar, Sri Wahyuni tampak haru.
Baginya, gelar “Perempuan Tangguh” adalah sebuah amanah besar untuk terus menyuarakan hak-hak kesehatan masyarakat, khususnya di Dapil Bojonegoro-Tuban.
“Penghargaan ini bukan semata untuk pribadi, melainkan untuk seluruh pihak yang selama ini bersama-sama berjuang. Di balik penghargaan ini, ada harapan masyarakat akan kehidupan yang lebih sehat,” ungkap Sri Wahyuni dengan rendah hati.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya peran pers sebagai mitra strategis dalam mengedukasi masyarakat mengenai perilaku hidup sehat.
“Saya berkomitmen untuk terus menguatkan kolaborasi lintas sektor demi masyarakat yang sehat, sejahtera, dan berdaya,” pungkasnya.(red)













