BOJONEGORO||TRANSISINEWS-Aliran sungai bengawan solo yang berada di sekitaran wilayah Kabupaten Bojonegoro akhir-akhir ini mengalami perubahan warna yang signifikan hingga menimbulkan beberapa dugaan penyebab hal itu terjadi.
Air keruh berwarna kecoklatan hingga hitam pekat telah mengalir beberapa hari ini sehingga menimbulkan pertanyaan oleh masyarakat sekitar bantaran bengawan solo dan juga para petani yang menggunakan air tersebut untuk mengairi lahan pertaniannya.
Banyak hal yang menyebabkan terjadinya fenomena aneh ini, beberapa dugaan pun timbul dari mulai adanya salah satu pihak pabrik yang membuang limbah hingga dikaitkan dengan cuaca ekstrem di Kabupaten Bojonegoro belakangan ini.
Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Lingkungan Hidup telah berupaya mencari sebab dan menjalankan pemeriksaan / pengecekan sesuai standar yang dimiliki DLH Bojonegoro.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Bojonegoro Beny Subiakto, S.STP., M.M., menjelaskan bahwa telah menerjunkan beberapa staf ahli yang kita miliki untuk mencari apa saja yang bisa menyebabkan fenomena perubahan warna air bengawan solo.
“Kami telah mengirimkan beberapa staff untuk mengambil gambar, mencari titik lokasi, dan sampel air di beberapa titik aliran air bengawan solo,” terangnya. Kamis (25/09/2025).
Benny juga menerangkan sampel air bengawan solo kini telah dilakukan pengujian laboratorium terakreditasi di Surabaya dan hasil Lab akan muncul sekitar 10 sampai 14 hari kerja.
“Kami bekerjasama dengan Laboratorium di daerah Surabaya dikarenakan Laboratorium milik DLH Bojonegoro belum terakreditasi, dan untuk sebabnya kita belum bisa memutuskan karena menunggu hasil uji Laboratorium dulu,” papar Sekdin DLH Bojonegoro.

Senada dengan hal itu Staff Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Tutik Prangmiatun mengatakan guna menindaklanjuti aduan dugaan pencemaran sungai bengawan solo, DLH Kabupaten Bojonegoro segera melakukan pengambilan sampel air permukaan pada titik Bendung Gerak Kalitidu (S. 07” 08’05.64″ E. 111” 49’55.57”).
“Ini kami lakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 lampiran VI tentang Penyelenggaraan Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Baku Mutu Air Sungai dan Sejenisnya,” pungkasnya.
Tutik juga memaparkan DLH Bojonegoro juga selalu memantau status mutu air sungai bengawan solo melalui system ONLIMO (Online Monitoring System) pada stasiun KLHK59 Padangan Bojonegoro dengan hasil grafik trend 7 hari pada tanggal 16 – 22 September 2025 yang menunjukan status mutu air yang masuk wilayah bojonegoro sudah tercemar ringan – tercemar sedang.
“DLH Bojonegoro juga melakukan koordinasi dan melaporkan kepada DLH Provinsi Jawa Timur tembusan BBWS Bengawan Solo, dan Balai Gakkum Kementerian LH di Surabaya sebagai upaya dalam identifikasi sumber pencemar dan penangulanganya,” ungkapnya.
DLH Bojonegoro akan terus memantau juga berkoordinasi dengan beberapa daerah yang juga terkena dampak fenomena ini, dan memastikan bahwa sumber pencemaran air bengawan solo tidak berasal dari wilayah Kabupaten Bojonegoro.
“Koordinasi telah kita lakukan dengan wilayah Hulu yaitu DLH Kabupaten Ngawi terkait kondisi air Sungai bengawan solo di wilayah Kabupaten Ngawi dan diperoleh informasi bahwa kondisi air masuk di wilayah ngawi sudah tercemar,” tutupnya.(sy)













