”Ekonomi kreatif hanya bisa melompat pesat apabila seluruh pemangku kepentingan (pentahelix) bekerja sama secara kolektif, memiliki peta jalan yang rigid, serta disokong penuh oleh regulasi kepala daerah dan fasilitas infrastruktur yang memadai,” urai Mario mendikte.
Sementara itu, dari sudut pandang manajemen acara, Wakil Direktur Festival dan Aktivasi ICCN, Aditya Bayu S., mengajak pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk mengubah cara pandang dalam mengeksekusi sebuah festival kebudayaan daerah.
“Festival jangan hanya dipandang sebagai proyek seremonial yang menghabiskan anggaran, melainkan harus dipandang sebagai investasi daerah. Festival yang dikelola secara profesional akan tumbuh dari acara musiman biasa menjadi identitas komunal sekaligus destinasi wisata unggulan yang memutar roda ekonomi rakyat, seperti fenomena Grebeg Suro di Ponorogo,” kata Aditya.
Lebih lanjut, Aditya mengingatkan tantangan festival di era modern.
Manajemen festival wajib beradaptasi dengan tren zaman lewat pemanfaatan teknologi digital, pengayaan pengalaman pengunjung (visitor experience), pelibatan komunitas lokal secara aktif, dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan (sustainability).
Agenda diskusi ilmiah yang dimoderatori oleh dosen FE Unigoro, M. Rizqi Agustino, MBA., ini berjalan sangat dinamis dan interaktif.
Ratusan mahasiswa-mahasiswi FE Unigoro tampak agresif memanfaatkan momentum ini untuk memberondong para praktisi ICCN dengan pertanyaan taktis terkait peluang bisnis ekraf di era digital.
Melalui forum ini, FE Unigoro berharap dapat mencetak jajaran promotor dan wirausahawan muda baru yang siap menggeser ketergantungan ekonomi Bojonegoro dari sektor industri ekstraktif menuju industri kreatif yang tak terbatas oleh waktu. (*/red)













